Keuangan

Jika Kena PHK, Apa yang Harus Dilakukan? Ini 9 Tips agar Keuangan Tetap Aman

Kehilangan pekerjaan bukan hanya soal berhenti menerima gaji setiap bulan. Ada kebutuhan rumah tangga yang tetap harus dipenuhi, cicilan yang terus berjalan, dan rencana hidup yang mungkin perlu disesuaikan. Situasi ini bisa terasa berat, terutama jika pekerjaan sebelumnya menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

Lantas, jika kena PHK, apa yang harus dilakukan agar kondisi keuangan tetap terkendali sambil mencari pekerjaan baru? Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri, memeriksa hak setelah pemutusan hubungan kerja, dan menyusun ulang anggaran sesuai kemampuan finansial yang tersedia.

Pada 2026, pekerja yang mengalami PHK bisa mulai mengambil langkah secara bertahap, mulai dari mengamankan tabungan, mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak, hingga mencari sumber penghasilan alternatif. Dengan perencanaan yang tepat, kamu bisa memberikan waktu lebih banyak untuk memulihkan kondisi finansial tanpa terburu-buru mengambil keputusan yang justru menambah beban.

Berikut sembilan tips yang bisa kamu terapkan setelah kehilangan pekerjaan.

Baca juga : Kerja Lepas Tanpa Gaji Tetap, Bisa Ajukan Pinjaman BPKB Mobil di SEVA? Cek Cara dan Syaratnya

1. Pastikan Hak Setelah PHK Sudah Diperiksa

Sebelum memikirkan langkah berikutnya, pastikan kamu memahami hak yang dapat diterima setelah hubungan kerja berakhir. Jangan hanya berpatokan pada informasi dari rekan kerja karena ketentuan yang berlaku bisa berbeda sesuai status pekerjaan, alasan PHK, masa kerja, dan peraturan yang menjadi dasar hubungan kerja.

Beberapa hal yang perlu diperiksa meliputi:

  • Uang pesangon, jika memang menjadi hak sesuai ketentuan.
  • Uang penghargaan masa kerja, apabila memenuhi persyaratan.
  • Uang penggantian hak, sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Sisa gaji dan hak lain yang belum dibayarkan perusahaan.
  • Dokumen resmi yang menjelaskan berakhirnya hubungan kerja.

Kamu bisa meminta rincian perhitungan hak secara tertulis dari bagian sumber daya manusia atau HRD. Jika terdapat perbedaan perhitungan, jangan terburu-buru menyetujui sesuatu yang belum kamu pahami.

Perlu diketahui, besaran hak akibat PHK tidak selalu sama untuk setiap pekerja. Perhitungannya perlu mengacu pada peraturan ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk ketentuan dalam PP Nomor 35 Tahun 2021 beserta perubahan atau aturan terkait yang berlaku pada saat PHK terjadi.

2. Hitung Ulang Pengeluaran dan Tentukan Prioritas

Setelah kehilangan pekerjaan, pengeluaran yang sebelumnya terasa biasa saja bisa menjadi beban karena tidak ada gaji rutin yang masuk. Karena itu, langkah berikutnya adalah menghitung kebutuhan minimum untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Mulailah dengan memisahkan pengeluaran menjadi tiga kategori.

  • Kebutuhan wajib: makanan, tempat tinggal, listrik, air, transportasi, pendidikan anak, dan kebutuhan kesehatan.
  • Kewajiban finansial: cicilan rumah, kendaraan, pinjaman, atau kewajiban lain yang jatuh tempo.
  • Pengeluaran yang bisa ditunda: hiburan, belanja impulsif, langganan yang jarang digunakan, dan pembelian barang yang belum diperlukan.

Sebagai contoh, jika pengeluaran bulanan sebelumnya Rp6 juta, kamu bisa mengevaluasi bagian yang masih memungkinkan untuk dikurangi. Bukan berarti semua kebutuhan harus dipangkas secara ekstrem, melainkan mencari pengeluaran yang bisa disesuaikan tanpa mengorbankan kebutuhan pokok.

Buat anggaran baru berdasarkan kondisi keuangan setelah PHK. Dengan begitu, kamu memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai jumlah uang yang dibutuhkan setiap bulan dan berapa lama dana yang tersedia bisa menopang kehidupan sehari-hari.

3. Hitung Daya Tahan Tabungan dan Uang yang Tersedia

Jangan langsung menggunakan seluruh uang yang diterima setelah PHK untuk belanja besar atau melunasi semua kewajiban sekaligus. Periksa terlebih dahulu jumlah tabungan, dana tunai, pesangon yang sudah diterima, serta pengeluaran rutin yang harus dibayar.

Kamu dapat menghitung perkiraan daya tahan keuangan menggunakan rumus sederhana:

Daya tahan keuangan = total dana yang tersedia ÷ pengeluaran wajib per bulan.

Misalnya, kamu memiliki dana Rp24 juta dan membutuhkan Rp4 juta per bulan untuk kebutuhan minimum. Secara sederhana, dana tersebut dapat menopang pengeluaran selama sekitar enam bulan, dengan asumsi tidak ada pemasukan lain dan pengeluaran tetap sesuai anggaran.

Perhitungan ini bukan jaminan bahwa uang akan cukup selama enam bulan. Pengeluaran tak terduga, biaya pencarian kerja, kebutuhan kesehatan, dan kewajiban lainnya tetap perlu diperhitungkan.

Simpan dana yang mudah diakses untuk kebutuhan mendesak. Hindari menempatkan seluruh uang yang tersisa pada instrumen berisiko tinggi atau investasi yang sulit dicairkan ketika kamu sedang membutuhkan dana untuk hidup sehari-hari.

4. Evaluasi Cicilan dan Jangan Mengabaikan Jatuh Tempo

Jika masih memiliki cicilan kendaraan, rumah, kartu kredit, atau pinjaman lainnya, segera masukkan seluruh kewajiban tersebut ke dalam anggaran baru. Kehilangan pekerjaan tidak otomatis menghapus kewajiban pembayaran yang sudah disepakati.

Buat daftar yang memuat jumlah cicilan, tanggal jatuh tempo, sisa kewajiban, dan konsekuensi jika terlambat membayar. Setelah itu, tentukan prioritas berdasarkan kebutuhan hidup, risiko keterlambatan, serta ketentuan masing-masing perjanjian.

Jika mulai kesulitan membayar cicilan, hubungi pihak pemberi pinjaman sebelum jatuh tempo atau sebelum tunggakan semakin besar. Tanyakan apakah ada pilihan penyelesaian yang sesuai dengan kebijakan mereka, termasuk kemungkinan penyesuaian pembayaran jika tersedia.

Hindari mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar cicilan lama tanpa perhitungan yang matang. Langkah tersebut berisiko memindahkan masalah keuangan ke periode berikutnya dan membuat total kewajiban semakin berat.

Jika ada tawaran pinjaman yang menjanjikan pencairan cepat, periksa biaya, bunga, tenor, dan jumlah angsuran secara menyeluruh. Pastikan keputusan tersebut didasarkan pada kemampuan membayar, bukan semata-mata karena membutuhkan uang dalam waktu singkat.

5. Periksa Kesempatan Mendapatkan Manfaat JKP

Pekerja yang mengalami PHK juga perlu memeriksa kemungkinan memperoleh manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) dari BPJS Ketenagakerjaan.

JKP merupakan program perlindungan bagi pekerja yang mengalami PHK dan memenuhi persyaratan kepesertaan serta ketentuan yang berlaku. Manfaatnya dapat mencakup uang tunai, akses informasi pasar kerja, dan pelatihan kerja sesuai aturan program.

Jangan menganggap setiap orang yang terkena PHK otomatis memperoleh manfaat JKP. Kelayakan penerima, status kepesertaan, alasan PHK, dan persyaratan administrasi perlu diperiksa terlebih dahulu.

Langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Memeriksa status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
  • Menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan.
  • Memastikan data dan status PHK tercatat dengan benar.
  • Mengakses kanal resmi BPJS Ketenagakerjaan untuk mengetahui prosedur dan ketentuan terbaru.

Kamu dapat mencari informasi melalui situs resmi BPJS Ketenagakerjaan di https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/.

Manfaat JKP dapat membantu meringankan tekanan finansial selama masa transisi, tetapi sebaiknya tetap susun anggaran berdasarkan dana yang benar-benar tersedia dan manfaat yang sudah dipastikan memenuhi syarat.

6. Segera Perbarui CV dan Mulai Mencari Pekerjaan Baru

Setelah kondisi keuangan mulai dipetakan, jangan menunggu terlalu lama untuk menyiapkan langkah karier berikutnya. Namun, kamu juga tidak harus melamar ke semua lowongan tanpa mempertimbangkan kesesuaian pekerjaan.

Perbarui CV dengan pengalaman, keterampilan, pencapaian, dan hasil kerja yang relevan. Jika memiliki portofolio, sertakan contoh pekerjaan yang bisa menunjukkan kemampuanmu kepada calon pemberi kerja.

Agar proses pencarian kerja lebih terarah, lakukan beberapa langkah berikut:

  1. Tentukan bidang pekerjaan yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan.
  2. Perbarui CV dan profil profesional di platform pencarian kerja.
  3. Buat daftar perusahaan yang ingin dilamar.
  4. Sesuaikan CV dengan persyaratan setiap lowongan.
  5. Hubungi kembali jaringan profesional atau mantan rekan kerja yang mungkin memiliki informasi lowongan.
  6. Jadwalkan waktu khusus untuk melamar dan mempersiapkan wawancara.

Jika belum mendapatkan pekerjaan tetap, pertimbangkan pekerjaan kontrak, proyek lepas, atau pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan kemampuan. Penghasilan dari pekerjaan sementara dapat membantu menutup sebagian kebutuhan selama masa pencarian kerja.

Tetap berhati-hati terhadap lowongan yang meminta biaya pendaftaran, menjanjikan gaji tidak masuk akal, atau meminta data pribadi dan perbankan yang tidak relevan dengan proses rekrutmen.

7. Pertimbangkan Sumber Penghasilan Alternatif

Sambil menunggu pekerjaan tetap, kamu bisa mencoba sumber pemasukan lain sesuai kemampuan, waktu, dan modal yang tersedia. Tujuannya bukan langsung menggantikan seluruh gaji sebelumnya, melainkan membantu memenuhi kebutuhan harian dan mengurangi tekanan pada tabungan.

Berikut beberapa alternatif yang bisa dipertimbangkan:

  1. Freelance sesuai keahlian. Jika memiliki kemampuan menulis, desain grafis, penerjemahan, administrasi, atau pengelolaan media sosial, tawarkan jasa kepada calon klien.
  2. Usaha rumahan. Kamu bisa mencoba menjual makanan, membuka jasa laundry skala kecil, atau menawarkan produk berdasarkan pesanan untuk mengurangi risiko stok tidak terjual.
  3. Mengajar atau memberikan kursus. Keahlian akademik, bahasa asing, komputer, dan keterampilan tertentu dapat dikembangkan menjadi jasa les atau pelatihan.
  4. Program affiliate atau referral. Jika memiliki jaringan pertemanan atau audiens yang relevan, kamu dapat mempelajari program yang memberikan komisi berdasarkan ketentuan dan hasil transaksi tertentu.
  5. Jasa berbasis kendaraan. Jika memiliki kendaraan dan biaya operasionalnya masih masuk akal, pertimbangkan pekerjaan pengantaran atau layanan transportasi sesuai persyaratan penyedia layanan.

Sebelum memilih, hitung biaya awal, biaya operasional, perkiraan pendapatan bersih, dan waktu yang dibutuhkan. Hindari menggunakan sebagian besar uang pesangon untuk usaha yang belum diuji pasarnya.

Penghasilan alternatif tidak selalu langsung stabil. Karena itu, tetap prioritaskan peluang kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana karier jangka panjangmu.

8. Hindari Keputusan Finansial yang Terburu-buru

Tekanan setelah PHK bisa membuat seseorang ingin segera mendapatkan uang dengan cara apa pun. Sayangnya, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko mengambil keputusan finansial yang kurang matang.

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain:

  • Menginvestasikan uang pesangon ke instrumen berisiko tinggi karena tergiur keuntungan besar dalam waktu singkat.
  • Mengikuti tawaran pekerjaan yang meminta biaya pendaftaran atau pembayaran tidak wajar.
  • Meminjam uang tanpa memahami bunga, biaya administrasi, tenor, dan total kewajiban pembayaran.
  • Menggunakan seluruh tabungan untuk memulai bisnis tanpa perhitungan pasar dan arus kas.
  • Mengandalkan pinjaman untuk membayar kebutuhan rutin tanpa rencana pelunasan yang jelas.

Jika membutuhkan dana tambahan, periksa lebih dahulu apakah kebutuhan tersebut benar-benar mendesak dan apakah ada alternatif lain yang tidak menambah beban utang.

Misalnya, kamu dapat menunda pembelian barang yang tidak mendesak, menjual barang yang tidak lagi digunakan, atau mencari pekerjaan sementara. Pilihan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan tanpa menambah kewajiban bulanan.

Jika harus mengambil pinjaman, pastikan cicilannya realistis terhadap sumber pendapatan yang dapat diandalkan. Jangan menganggap pendapatan dari pekerjaan yang belum diperoleh atau usaha yang baru dirintis sebagai sumber pembayaran yang sudah pasti.

9. Siapkan Rencana Keuangan untuk Enam Bulan ke Depan

Setelah melakukan berbagai langkah di atas, susun rencana keuangan untuk beberapa bulan kedepan. Rencana ini tidak harus rumit, tetapi perlu mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.

Mulailah dengan mencatat jumlah tabungan, pesangon yang sudah diterima, manfaat jaminan sosial yang memenuhi syarat, serta pengeluaran wajib. Setelah itu, buat perkiraan arus kas untuk setiap bulan.

Sebagai gambaran, jika dana yang tersedia sebesar Rp30 juta dan kebutuhan pokok serta kewajiban bulanan mencapai Rp5 juta, dana tersebut secara sederhana dapat menopang enam bulan pengeluaran. Namun, perhitungan ini belum memperhitungkan pemasukan lain, biaya tak terduga, atau pengeluaran tambahan.

Kamu bisa membuat tiga skenario:

  • Skenario optimistis: mendapatkan pekerjaan baru dalam waktu relatif singkat.
  • Skenario moderat: membutuhkan beberapa bulan untuk memperoleh pekerjaan atau penghasilan yang stabil.
  • Skenario konservatif: proses pencarian kerja lebih lama sehingga pengeluaran harus ditekan lebih jauh.

Dengan skenario tersebut, kamu dapat menentukan kapan perlu mengurangi pengeluaran, mencari pemasukan tambahan, atau mengevaluasi kembali kewajiban finansial.

Lakukan evaluasi setiap minggu atau setiap akhir bulan. Jika kondisi berubah, sesuaikan anggaran tanpa harus menunggu sampai tabungan hampir habis.

SEVA DanaPlus, Alternatif Saat Membutuhkan Dana Setelah PHK

Dalam situasi setelah PHK, ada kalanya kebutuhan mendesak muncul ketika tabungan mulai menipis, misalnya untuk memperbaiki kendaraan yang digunakan mencari nafkah atau menyiapkan modal usaha kecil. Jika kamu memiliki mobil dan mempertimbangkan pinjaman, salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah SEVA DanaPlus.

SEVA DanaPlus merupakan fasilitas pinjaman dengan jaminan BPKB mobil yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk modal usaha, pendidikan, renovasi rumah, dan kebutuhan lainnya. Informasi mengenai layanan dan pengajuan juga tersedia melalui situs resmi SEVA.id.

Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum mengajukan SEVA DanaPlus:

  • Dana pinjaman: tersedia fasilitas dana hingga Rp500 juta, dengan jumlah yang disetujui bergantung pada hasil penilaian dan ketentuan pembiayaan.
  • Bunga: mulai dari 0,75% per bulan, sesuai ketentuan yang berlaku.
  • Tenor: tersedia pilihan cicilan selama 1–4 tahun, bergantung pada persetujuan pengajuan.
  • Proses awal: formulir pengajuan online dapat diisi sekitar 30 detik, kemudian tim SEVA akan menghubungi calon nasabah dalam waktu maksimal 1×24 jam.
  • Dokumen: siapkan KTP pemohon dan pasangan jika sudah menikah, Kartu Keluarga, NPWP, BPKB mobil, STNK mobil, serta cover buku tabungan sesuai persyaratan pengajuan.

Proses selanjutnya mencakup konfirmasi dengan tim SEVA, pemeriksaan persyaratan, dan survei apabila diperlukan sebelum keputusan pembiayaan dan pencairan dana.

Sebagai gambaran, simulasi pinjaman Rp50 juta dengan tenor 12 bulan dan angsuran Rp4.542.000 per bulan pernah dicantumkan sebagai ilustrasi pembiayaan. Angka tersebut hanya simulasi, bukan jaminan bahwa setiap pengajuan akan mendapatkan jumlah pinjaman, bunga, atau cicilan yang sama. Pastikan kamu meminta perhitungan terbaru sebelum mengambil keputusan.

Layanan ini didukung mitra pembiayaan, termasuk Astra Credit Companies (ACC), yang merupakan perusahaan pembiayaan di bawah pengawasan OJK. Meski begitu, pengajuan tetap melalui proses penilaian dan tidak otomatis disetujui.

Hal yang paling penting, pinjaman dengan jaminan BPKB bukan pengganti penghasilan tetap. Jika belum memiliki pemasukan setelah PHK, pertimbangkan dengan sangat hati-hati kemampuan membayar cicilan setiap bulan. Kegagalan memenuhi kewajiban dapat menimbulkan konsekuensi sesuai perjanjian pembiayaan dan berisiko terhadap kendaraan yang dijaminkan.

Jika kebutuhan tersebut tidak mendesak atau belum ada sumber pendapatan untuk membayar cicilan, menunda pengajuan bisa menjadi keputusan yang lebih aman. Sebaliknya, apabila dana dibutuhkan untuk kegiatan produktif yang perhitungannya jelas, pelajari seluruh biaya, kewajiban, dan risikonya sebelum memutuskan.

Baca juga : Pinjaman BPKB Mobil untuk Usaha Tanpa Slip Gaji di SEVA 2026, Apa Saja Syaratnya?

Kesimpulan

Jika kena PHK, apa yang harus dilakukan agar keuangan tetap aman? Mulailah dengan memahami hak sebagai pekerja, menghitung kebutuhan pokok, menjaga uang pesangon, dan mengevaluasi kewajiban bulanan. Periksa pula manfaat JKP yang mungkin bisa diperoleh, sambil mulai mencari pekerjaan baru atau membangun sumber penghasilan alternatif.

Hindari mengambil keputusan finansial hanya karena panik. Jika mempertimbangkan pinjaman, termasuk SEVA DanaPlus, pastikan kebutuhan dan kemampuan membayar sudah dihitung secara realistis. Dengan perencanaan yang terukur, masa setelah PHK dapat dihadapi secara lebih terarah tanpa menambah risiko keuangan yang tidak perlu.

FAQ

1. Apakah karyawan kontrak berhak mendapatkan kompensasi jika terkena PHK?

Pekerja dengan perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) dapat berhak atas uang kompensasi sesuai ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

2. Apakah resign setelah menerima kabar PHK memengaruhi hak pekerja?

Dampaknya bergantung pada status dan proses hubungan kerja. Sebaiknya pahami dokumen serta konsekuensi hukumnya sebelum menandatangani pengunduran diri.

3. Apakah uang pesangon dikenakan pajak?

Pembayaran pesangon dapat dikenai PPh Pasal 21 dengan ketentuan tarif dan fasilitas pajak yang berlaku. Periksa perhitungan dari pemberi kerja atau petugas pajak.

4. Apakah pekerja yang terkena PHK bisa mencairkan saldo JHT?

Saldo Jaminan Hari Tua (JHT) dapat diklaim jika memenuhi persyaratan pencairan BPJS Ketenagakerjaan. Ketentuan dan dokumen pengajuan perlu diperiksa terlebih dahulu.

5. Apakah boleh menerima pekerjaan freelance sambil mengajukan manfaat JKP?

Aktivitas freelance dan status kelayakan manfaat perlu diperiksa berdasarkan ketentuan JKP yang berlaku. Pastikan kamu mengonfirmasi kepada BPJS Ketenagakerjaan sebelum mengandalkan manfaat tersebut.