Berita Utama Otomotif

Kegiatan Haji Apa Saja? Ini 10 Rangkaian Penting yang Dilakukan jamaah di Tanah Suci 

Kegiatan haji apa saja yang dilakukan jamaah selama berada di Tanah Suci? Pertanyaan ini penting diketahui, terutama bagi calon jamaah yang ingin memahami gambaran perjalanan ibadah haji dari awal hingga selesai. Sebab, haji bukan hanya tentang berada di Makkah dan Madinah, tetapi terdiri dari rangkaian ibadah dengan waktu, tempat, serta ketentuan masing-masing.

Pada pelaksanaan haji 1447 H/2026 M, rangkaian puncak haji berlangsung pada 9 Zulhijah yang bertepatan dengan 26 Mei 2026. Sebelumnya, jamaah mulai bergerak menuju Arafah pada 8 Dzulhijjah atau 25 Mei 2026 untuk mempersiapkan pelaksanaan wukuf. Pemerintah juga menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan 18 Mei 2026 dan Iduladha pada 27 Mei 2026.

Memahami urutan kegiatan sejak sebelum puncak haji akan membantu calon jamaah lebih siap secara fisik, mental, dan spiritual. Berikut rangkaian penting yang perlu diketahui.

Baca juga : 10 Alternatif Pinjaman Online Tanpa BI Checking Ribet & Terdaftar OJK

1. Persiapan Ihram dan Niat dari Miqat

Salah satu tahapan awal dalam ibadah haji adalah mengenakan ihram dan berniat sesuai jenis haji yang dilaksanakan. jamaah harus memperhatikan miqat, yaitu batas tempat atau waktu untuk memulai ihram.

Bagi jamaah yang melakukan haji tamattu, rangkaian ibadah dapat diawali dengan umrah terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan umrah dan tahallul, jamaah kembali berihram untuk melaksanakan haji pada waktunya.

Sementara itu, tata cara dan rangkaian bagi jamaah yang mengambil haji ifrad atau qiran memiliki ketentuan yang berbeda. Karena itu, calon jamaah perlu mengikuti bimbingan manasik dan petunjuk pembimbing ibadah agar niat serta pelaksanaan ihram sesuai dengan jenis haji yang dipilih.

Kementerian Haji dan Umrah juga menerbitkan Buku Paket Bimbingan Manasik Haji dan Umrah 1447 H/2026 M sebagai panduan bagi jamaah. Materinya tidak hanya membahas tata cara ibadah, tetapi juga aspek spiritual dan persiapan kemandirian jamaah.

2. Beribadah dan Beraktivitas di Madinah

Madinah menjadi salah satu tujuan penting dalam perjalanan banyak jamaah haji Indonesia. Namun, perlu dipahami bahwa urutan perjalanan antara Madinah dan Makkah dapat berbeda sesuai gelombang keberangkatan.

Selama berada di Madinah, jamaah biasanya beribadah di Masjid Nabawi dan mengikuti program ziarah yang disiapkan oleh penyelenggara. jamaah juga dapat memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta melakukan ibadah lainnya.

Kegiatan di Madinah bukan termasuk rukun haji. Artinya, sah atau tidaknya ibadah haji tidak ditentukan oleh apakah seseorang sempat melakukan ziarah di Madinah. Namun, kesempatan berada di kota tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.

3. Melaksanakan Umrah bagi jamaah Haji Tamattu

Bagi jamaah yang mengambil haji tamattu, salah satu rangkaian awalnya adalah melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji sebelum kembali berihram untuk haji.

Umrah tersebut mencakup tawaf, sai, dan tahallul. Setelah tahallul, jamaah diperbolehkan kembali melakukan aktivitas yang sebelumnya dilarang selama ihram hingga waktunya kembali berihram untuk haji.

Karena tidak semua jamaah menggunakan jenis haji tamattu, rangkaian ini tidak otomatis berlaku dengan pola yang sama bagi seluruh jamaah. Jenis haji yang dipilih akan memengaruhi urutan ibadah yang dijalankan.

4. Tawaf di Masjidil Haram

Setelah berada di Makkah, kegiatan yang sangat dekat dengan rangkaian ibadah haji adalah tawaf di Ka’bah. Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran sesuai ketentuan manasik.

Jenis tawaf dalam rangkaian haji juga perlu dibedakan. Ada tawaf yang berkaitan dengan kedatangan, tawaf ifadah sebagai bagian penting dari rangkaian haji, dan tawaf wada sebelum meninggalkan Makkah.

Karena setiap jenis tawaf mempunyai ketentuan berbeda, jamaah sebaiknya tidak hanya mengandalkan hafalan urutan. Panduan manasik dari petugas atau pembimbing dapat menjadi pegangan agar pelaksanaannya tidak tertukar.

5. Sai antara Safa dan Marwah

Sai merupakan perjalanan bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Aktivitas ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah yang berkaitan dengan haji dan umrah sesuai ketentuannya.

Bagi jamaah haji tamattu, sai dilakukan dalam rangkaian umrah dan kemudian terdapat sai haji sesuai ketentuan manasik. Karena detail pelaksanaannya dapat berbeda berdasarkan jenis haji, jamaah perlu memahami panduan yang sesuai dengan pilihan hajinya.

Kegiatan sai juga membutuhkan kondisi fisik yang cukup karena jamaah harus berjalan dalam jarak tertentu di tengah suasana yang ramai. Mengatur tenaga sejak awal menjadi bagian penting agar jamaah tetap mampu mengikuti rangkaian puncak haji.

6. Wukuf di Arafah

Jika membahas kegiatan haji apa saja, wukuf di Arafah menjadi salah satu tahapan yang paling penting karena termasuk rukun haji.

Wukuf dilaksanakan pada 9 Zulhijah. Pada pelaksanaan haji 1447 H/2026 M, wukuf ditetapkan berlangsung pada 26 Mei 2026. Sebelumnya, jamaah Indonesia mulai bergerak ke Arafah pada 25 Mei 2026 atau 8 Zulhijah.

Di Arafah, jamaah mengikuti rangkaian ibadah wukuf, seperti salat, berdoa, berzikir, membaca Al-Qur’an, dan mendengarkan khutbah wukuf. Kementerian Agama juga mengingatkan jamaah untuk memperbanyak amalan dan mematuhi larangan selama ihram ketika menjalankan wukuf.

Wukuf memiliki kedudukan sangat penting dalam ibadah haji. Karena itu, seluruh pengaturan pergerakan jamaah menuju Arafah menjadi bagian krusial dalam operasional penyelenggaraan haji.

7. Mabit atau Berada di Muzdalifah

Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah. Pergerakan ini dilakukan setelah waktu Magrib sesuai pengaturan perjalanan jamaah.

Muzdalifah menjadi salah satu lokasi penting dalam rangkaian puncak haji. jamaah menjalankan mabit sesuai ketentuan dan mempersiapkan perjalanan berikutnya menuju Mina.

Dalam penyelenggaraan haji, mekanisme pergerakan jamaah dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, pada penyelenggaraan sebelumnya terdapat skema murur bagi sebagian jamaah untuk membantu mengatur kepadatan pergerakan dari Arafah menuju Muzdalifah.

Karena kebijakan teknis dapat berubah setiap musim haji, jamaah sebaiknya mengikuti arahan petugas pada tahun keberangkatan masing-masing.

8. Mabit di Mina dan Melontar Jumrah

Setelah dari Muzdalifah, rangkaian puncak haji berlanjut di Mina. Di tempat ini, jamaah menjalankan mabit dan melaksanakan lontar jumrah sesuai ketentuan waktunya.

Pada rangkaian lontar jumrah, terdapat tiga jumrah yang dikenal sebagai Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan Jumrah Aqabah. Pelaksanaan lontar jumrah harus mengikuti ketentuan manasik serta jadwal yang ditetapkan agar pergerakan jamaah tetap aman.

Kementerian Agama dalam penyelenggaraan haji juga mengatur dan mengimbau jamaah agar tidak memilih waktu yang terlalu padat untuk melakukan lontar jumrah. Pengaturan ini penting karena jutaan jamaah berkumpul di kawasan Mina pada periode yang sama.

jamaah juga perlu mengutamakan kondisi fisik. Tidak perlu memaksakan diri berjalan dalam kondisi kelelahan, terutama ketika cuaca panas dan kepadatan jamaah meningkat.

9. Tahallul dan Tawaf Ifadah

Setelah menjalankan rangkaian tertentu pada puncak haji, jamaah melaksanakan tahallul sesuai ketentuan. Tahallul ditandai dengan mencukur atau memotong rambut sebagai bagian dari rangkaian ibadah.

Selanjutnya, jamaah melaksanakan tawaf ifadah di Masjidil Haram. Tawaf ifadah merupakan bagian penting dalam ibadah haji dan termasuk rukun haji menurut tuntunan manasik.

Karena termasuk rukun, jamaah harus memahami ketentuannya dengan baik. Jangan sampai tawaf ifadah dianggap sama dengan tawaf yang dilakukan sekadar untuk ibadah sunnah atau aktivitas lainnya di Masjidil Haram.

Setelah rangkaian utama selesai, jamaah kemudian dapat kembali menjalankan aktivitas ibadah dan kegiatan lainnya di Makkah sesuai jadwal penyelenggaraan.

10. Tawaf Wada sebelum Meninggalkan Makkah

Rangkaian kegiatan haji kemudian memasuki tahap akhir ketika jamaah bersiap meninggalkan Makkah. Salah satu aktivitas yang perlu diperhatikan adalah tawaf wada atau tawaf perpisahan.

Tawaf ini dilakukan ketika jamaah hendak meninggalkan Makkah sesuai ketentuan yang berlaku. Setelah menyelesaikan rangkaian tersebut, jamaah dapat melanjutkan perjalanan menuju Madinah atau langsung mengikuti jadwal kepulangan, bergantung pada pola perjalanan masing-masing kelompok.

Jadwal kepulangan jamaah Indonesia pada operasional haji 1447 H/2026 M juga telah diatur dalam rencana perjalanan haji. Pemerintah menetapkan fase pemulangan ke Tanah Air mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Mengikuti Rangkaian Haji?

Setelah mengetahui kegiatan haji apa saja, calon jamaah juga perlu mempersiapkan diri agar mampu mengikuti rangkaian tersebut dengan baik. Persiapan bukan hanya soal perlengkapan, tetapi juga pemahaman ibadah dan kondisi tubuh.

Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan antara lain:

  • Mengikuti seluruh bimbingan manasik yang disediakan.
  • Memahami jenis haji yang akan dilaksanakan.
  • Mengetahui rukun, wajib, dan sunnah haji.
  • Menyiapkan perlengkapan sesuai kebutuhan dan ketentuan penerbangan.
  • Mengatur pola tidur dan menjaga stamina sebelum keberangkatan.
  • Mengikuti arahan petugas selama berada di Tanah Suci.
  • Tidak memaksakan aktivitas fisik ketika kondisi tubuh sedang menurun.
  • Membawa identitas dan perlengkapan penting sesuai ketentuan penyelenggara.
  • Memperbanyak doa dan mempersiapkan mental menghadapi kondisi ramai serta perubahan jadwal.

Kementerian Haji dan Umrah pada 2026 juga menekankan pentingnya kemandirian jamaah melalui materi bimbingan manasik yang diperbarui. Karena itu, calon jamaah sebaiknya tidak hanya mengandalkan pendamping atau teman satu rombongan, tetapi memahami sendiri dasar-dasar ibadah yang akan dilakukan.

Perbedaan Kegiatan Haji dan Aktivitas Pendukung Selama di Tanah Suci

Tidak semua aktivitas yang dilakukan jamaah selama berada di Arab Saudi merupakan bagian dari rangkaian wajib haji. Ini penting dipahami agar calon jamaah tidak salah menganggap ziarah atau aktivitas tertentu sebagai rukun.

Secara sederhana, aktivitas selama perjalanan dapat dibedakan menjadi:

  1. Rangkaian ibadah haji, seperti wukuf, tawaf, sai, dan tahallul sesuai ketentuannya.
  2. Ibadah pendukung, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa.
  3. Kegiatan ziarah, misalnya kunjungan ke sejumlah lokasi bersejarah sesuai program dan kondisi.
  4. Kegiatan layanan jamaah, seperti perpindahan hotel, konsumsi, pemeriksaan kesehatan, dan perjalanan antarkota.

Perbedaan ini membuat calon jamaah lebih mudah memahami mana aktivitas yang berkaitan langsung dengan keabsahan rangkaian haji dan mana yang bersifat pendukung.

Pada akhirnya, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan dari satu kota ke kota lain. Setiap tahapan memiliki makna dan ketentuan yang perlu dipahami. Mulai dari ihram, thawaf, sai, wukuf di Arafah, perjalanan ke Muzdalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, hingga tawaf ifadah dan thawaf wada, seluruhnya membutuhkan kesiapan dan kedisiplinan.

Baca juga : Cara Gadai BPKB Mobil Cepat Cair di SEVA (2026): Cek Syarat, dan Simulasinya

Kesimpulan

Dengan mengetahui kegiatan haji apa saja sejak sebelum berangkat, calon jamaah dapat lebih mudah mengikuti arahan petugas dan pembimbing tanpa merasa terlalu asing dengan rangkaian yang akan dijalani. Untuk pelaksanaan 2026 maupun tahun berikutnya, tetap jadikan panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah serta arahan petugas haji sebagai rujukan utama karena teknis operasional dapat mengalami penyesuaian.

FAQ

1. Apakah semua jamaah haji memiliki urutan kegiatan yang sama?

Tidak selalu. Urutan dapat berbeda berdasarkan jenis haji dan pola perjalanan jamaah.

2. Apakah ziarah di Madinah termasuk rukun haji?

Tidak. Ziarah di Madinah bukan rukun yang menentukan sahnya ibadah haji.

3. Kapan waktu terbaik mempelajari manasik haji?

Sebaiknya sejak jauh sebelum keberangkatan agar jamaah memiliki waktu untuk memahami dan mempraktekkannya.

4. Apakah jamaah boleh membawa buku panduan manasik sendiri?

Boleh, selama sesuai ketentuan barang bawaan dan digunakan sebagai referensi tambahan.

5. Mengapa jamaah harus mengikuti jadwal pergerakan yang ditetapkan petugas?

Karena pengaturan tersebut dibuat untuk menjaga ketertiban, keselamatan, dan kelancaran pergerakan jamaah dalam jumlah besar.