Berita Utama Otomotif

Haji atau Umroh, Mana yang Lebih Utama? Ini Penjelasan Berdasarkan Hukum Islam

Pertanyaan yang mana lebih utama, haji atau umroh cukup sering muncul ketika seseorang mulai memiliki keinginan untuk beribadah ke Tanah Suci. Apalagi, keduanya sama-sama menjadi ibadah yang sangat diidamkan umat Islam. Namun, haji dan umroh sebenarnya memiliki kedudukan hukum, waktu pelaksanaan, serta rangkaian ibadah yang berbeda.

Bagi orang yang sedang menyiapkan dana, menentukan prioritas juga menjadi hal penting. Ada yang memilih umroh lebih dulu karena pelaksanaannya relatif lebih fleksibel, sementara sebagian lainnya ingin langsung mempersiapkan haji. Lantas, jika harus menentukan prioritas, yang mana lebih utama, haji atau umroh?

Secara umum, haji memiliki kedudukan yang lebih utama karena merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat kemampuan atau istitha’ah. Sementara itu, hukum umroh masih menjadi persoalan yang diperselisihkan ulama. Majelis Ulama Indonesia mencatat bahwa mazhab Syafi’i dan Hanbali memandang umroh sebagai ibadah wajib bagi yang mampu, sedangkan mazhab Hanafi dan Maliki memandangnya sebagai sunnah.

Baca juga : 10 Alternatif Pinjaman Online Tanpa BI Checking Ribet & Terdaftar OJK

Haji Memiliki Kedudukan Wajib bagi Muslim yang Mampu

Haji bukan sekadar perjalanan ke Tanah Suci, tetapi termasuk salah satu dari lima rukun Islam. Kewajiban tersebut berlaku bagi Muslim yang memenuhi syarat, termasuk memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.

Dalam konteks fikih, kemampuan atau istitha’ah tidak hanya berkaitan dengan uang. Kemampuan juga mencakup kondisi fisik, keamanan perjalanan, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah sesuai ketentuan syariat.

Karena itu, seseorang yang sudah memenuhi syarat wajib haji tidak seharusnya menjadikan umroh sebagai pengganti haji. Umroh merupakan ibadah tersendiri dan tidak menggugurkan kewajiban haji.

Hal ini juga ditegaskan dalam penjelasan MUI. Bahkan apabila seseorang melakukan umroh, termasuk umroh pada bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan besar, ibadah tersebut tidak dapat menggantikan kewajiban haji.

Dengan kata lain, apabila seorang Muslim sudah memenuhi kemampuan untuk menunaikan haji dan kewajiban hajinya telah berlaku, maka haji menjadi prioritas utama.

Hukum Umroh Memiliki Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Berbeda dari haji, hukum umroh memiliki perbedaan pendapat diantara ulama fiqih.

MUI menjelaskan bahwa ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat umroh hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Pendapat tersebut antara lain didasarkan pada Surah Al-Baqarah ayat 196 yang memerintahkan penyempurnaan haji dan umroh karena Allah.

Sementara itu, ulama dari mazhab Malikiyah dan Hanafiyah berpandangan bahwa umroh hukumnya sunnah. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pembahasan hukum umroh tidak sesederhana menganggap semua ulama memiliki satu pendapat yang sama.

Karena adanya perbedaan pendapat tersebut, pembaca sebaiknya memahami konteks mazhab dan rujukan keagamaan yang digunakan. Namun, perbedaan pendapat mengenai hukum umroh tidak mengubah fakta bahwa umroh tidak dapat menggantikan kewajiban haji.

Jadi, yang Mana Lebih Utama, Haji atau Umroh?

Jika pertanyaannya adalah yang mana lebih utama, haji atau umroh, maka jawabannya perlu melihat kondisi orang yang hendak beribadah.

Jika seseorang telah memenuhi syarat wajib haji dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, haji harus menjadi prioritas. Haji memiliki kedudukan sebagai rukun Islam, sedangkan umroh tidak menggantikan kewajiban tersebut.

Sebaliknya, jika seseorang belum memenuhi kemampuan untuk berhaji, bukan berarti ia harus memaksakan diri. Kemampuan finansial dan fisik tetap perlu diperhitungkan agar ibadah dilakukan secara benar dan tidak menimbulkan mudarat.

Dalam panduan manasik yang diterbitkan Kementerian Agama, haji dan umroh juga dijelaskan sebagai dua ibadah yang masing-masing berdiri sendiri. Artinya, tidak setiap pelaksanaan haji harus digabung dengan umroh.

Karena itu, pertanyaan mengenai prioritas tidak sebaiknya hanya dijawab berdasarkan biaya perjalanan atau tren di masyarakat. Dasar utamanya tetap kedudukan ibadah dan kondisi kemampuan seseorang.

Kenali Perbedaan Haji dan Umroh Sebelum Menentukan Prioritas

Agar tidak keliru, ada beberapa perbedaan mendasar antara haji dan umroh yang perlu dipahami.

  1. Waktu pelaksanaan

Haji hanya dilaksanakan pada waktu tertentu dalam kalender Islam, terutama rangkaian puncaknya pada bulan Zulhijah. Sementara itu, umroh dapat dilaksanakan sepanjang tahun.

Perbedaan waktu ini membuat umroh memiliki fleksibilitas yang lebih besar. Seseorang dapat memilih waktu keberangkatan sesuai kondisi dan jadwal yang tersedia.

  1. Rangkaian ibadah

Haji memiliki rangkaian manasik yang lebih panjang dan kompleks. Salah satu bagian yang membedakannya secara mendasar adalah wukuf di Arafah.

Umroh tidak memiliki wukuf di Arafah. Secara umum, rangkaian umroh mencakup ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul.

MUI juga menjelaskan bahwa perbedaan antara keduanya salah satunya terletak pada wukuf, karena umroh tidak memiliki rangkaian wukuf di Arafah.

  1. Lama perjalanan

Pelaksanaan haji biasanya membutuhkan waktu perjalanan yang lebih panjang karena jemaah harus mengikuti rangkaian manasik pada waktu yang telah ditentukan.

Sementara itu, umroh dapat dilakukan dengan durasi perjalanan yang lebih fleksibel. Lama perjalanan umroh bergantung pada paket perjalanan dan rencana jemaah.

  1. Kondisi fisik

Haji membutuhkan kesiapan fisik yang cukup besar karena terdapat mobilitas tinggi dalam rangkaian manasik. Pada penyelenggaraan haji 2026, pemerintah juga menekankan pentingnya kesiapan fisik jamaah maupun petugas karena rangkaian ibadah haji memiliki aktivitas fisik yang tinggi.

Hal ini menjadi pengingat bahwa persiapan haji tidak cukup hanya dengan menyiapkan biaya. Kondisi kesehatan, stamina, pemahaman manasik, dan kesiapan mental juga perlu diperhatikan.

Apakah Umroh Dulu Boleh Jika Belum Bisa Berangkat Haji?

Dalam praktiknya, ada orang yang memilih umroh terlebih dahulu karena belum dapat melaksanakan haji. Salah satu alasannya adalah sistem keberangkatan haji di Indonesia yang memiliki proses pendaftaran dan masa tunggu.

Namun, perlu dipahami bahwa umroh tidak menghapus kewajiban haji bagi seseorang yang nantinya telah memenuhi syarat wajib haji.

MUI secara tegas menjelaskan bahwa umroh tidak dapat menggantikan atau menggugurkan kewajiban haji. Jadi, seseorang yang telah melaksanakan umroh tetap perlu menunaikan haji ketika kewajiban tersebut telah berlaku dan ia mampu melaksanakannya.

Dengan begitu, umroh dapat menjadi ibadah tersendiri bagi orang yang ingin mengunjungi Tanah Suci sebelum mendapatkan kesempatan berhaji, tetapi jangan sampai dipahami sebagai pengganti haji.

Bagaimana Jika Dana Hanya Cukup untuk Salah Satunya?

Kondisi finansial juga sering menjadi pertimbangan ketika seseorang ingin menentukan pilihan. Jika dana yang tersedia belum mencukupi kebutuhan haji dan orang tersebut belum memenuhi kemampuan untuk berhaji, tidak perlu memaksakan diri hanya karena ingin segera berangkat.

Islam memberikan ketentuan kewajiban haji berdasarkan kemampuan. Karena itu, persiapan finansial sebaiknya dilakukan secara bertahap dan realistis.

Jika seseorang sudah memenuhi syarat wajib haji, tetapi dana tersebut justru dialihkan untuk kebutuhan umroh tanpa alasan yang tepat, maka perlu mempertimbangkan kembali prioritasnya.

Sebaliknya, apabila seseorang belum mampu berhaji, tidak berarti keinginannya untuk beribadah harus berhenti. Ia dapat mempersiapkan diri, belajar manasik, memperbaiki kondisi finansial, dan menunggu kesempatan yang memungkinkan.

Haji dan Umroh Sama-Sama Memerlukan Persiapan Serius

Meski pertanyaan yang mana lebih utama, haji atau umroh sering dikaitkan dengan hukum, persiapannya tetap tidak boleh dianggap sepele.

Untuk haji, calon jamaah perlu mempersiapkan dokumen, mengikuti ketentuan penyelenggaraan, memahami manasik, menjaga kesehatan, dan menyiapkan kondisi finansial.

Sementara itu, calon jemaah umroh juga perlu memastikan perjalanan dilakukan melalui penyelenggara yang resmi serta memahami ketentuan perjalanan dan ibadah.

Pada 2026, pemerintah juga terus melakukan penguatan tata kelola haji dan umroh. MUI mencatat bahwa penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M melayani 203.149 jemaah dalam 527 kloter, sekaligus menjadi dasar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pada musim haji berikutnya.

Artinya, calon jemaah perlu memperhatikan bukan hanya sisi ibadah, tetapi juga aspek administrasi, perlindungan jemaah, kesehatan, dan kesiapan perjalanan.

Baca juga : Cara Gadai BPKB Mobil Cepat Cair di SEVA (2026): Cek Syarat, dan Simulasinya

Kesimpulan

Jika harus menjawab yang mana lebih utama, haji atau umroh, maka haji memiliki kedudukan yang lebih utama bagi Muslim yang telah memenuhi syarat wajib haji dan memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Haji merupakan salah satu rukun Islam, sedangkan hukum umroh memiliki perbedaan pendapat diantara ulama.

Namun, seseorang yang belum mampu berhaji tidak perlu memaksakan diri. Umroh tetap merupakan ibadah yang memiliki keutamaan, tetapi pelaksanaannya tidak menggugurkan kewajiban haji.

Pada akhirnya, pilihan antara haji dan umroh sebaiknya tidak hanya didasarkan pada biaya, tren perjalanan, atau keinginan untuk segera sampai ke Tanah Suci. Pahami terlebih dahulu hukum, kemampuan, kondisi fisik, serta tujuan ibadah agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan syariat dan kondisi masing-masing.

FAQ

1. Apakah orang yang sudah umroh tetap wajib haji?

Ya, jika nantinya telah memenuhi syarat wajib haji dan memiliki kemampuan untuk menunaikannya.

2. Apakah umroh bisa menggantikan haji?

Tidak. Umroh merupakan ibadah tersendiri dan tidak menggugurkan kewajiban haji.

3. Apakah haji hanya boleh dilakukan sekali?

Kewajiban haji berlaku satu kali bagi Muslim yang mampu, sedangkan pelaksanaan berikutnya termasuk ibadah sunnah.

4. Apakah umroh bisa dilakukan lebih dari sekali?

Bisa, tetapi pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kemampuan fisik, waktu, dan kondisi finansial.

5. Kapan waktu terbaik untuk mulai mempersiapkan haji?

Sebaiknya sejak jauh hari, terutama dengan mempersiapkan finansial, kesehatan, dokumen, dan pengetahuan manasik.