Apa yang Terjadi jika Alur Ban Dipasang Terbalik?

Ada pertanyaan yang sering terdengar ketika mengganti ban, yaitu “Apakah memasang ban dengan alur terbaik itu aman?” Jawaban yang didapat dari hal tersebut selalu menimbulkan pro dan kontra. Untuk itu, kami coba meluruskan “debat” tersebut.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya mengenal alur ban atau groove terlebih dahulu. Fungsi dari alur ban adalah untuk membuang kotoran atau air ketika hujan sehingga ban tidak menjadi licin serta menghindari terjadinya selip. Jadi, saat melintasi jalur berpasir atau basah ban tetap nge-grip.

Lalu, untuk ban tipe directional dan asymmetrical terdapat aturan pemasangan dibanding simetris. Directional memiliki penunjuk arah berbentuk panah, sedangkan asymmetrical ditandai dengan tulisan outside dan inside.
Balik lagi ke pertanyaan awal, bagaimana jika alur ban dipasang terbalik?

Ban dengan alur terbalik biasanya dipasang pada ban depan mobil yang berkapasitas mesin besar dan memang memerlukan grip untuk pengereman, seperti mobil balap misalnya. Konon katanya, ban dengan alur terbalik memiliki grip yang lebih bagus, jadi pengereman bisa maksimal dan motor akan tetap stabil.

Tetapi ini hanya berlaku bagi ban depan dan bagi mobil berpenggerak roda belakang, serta hanya dilakukan oleh pembalap di sirkuit, bukan untuk pemakaian sehari-hari karena akan berbahaya, apalagi saat jalanan basah. Mobil bisa kehilangan stabilitas dan sulit dikontrol.

Lalu, bagaimana jika ban dengan alur terbalik dipasang di bagian belakang?

Pabrikan sudah melakukan riset berkali-kali untuk membuat ban yang aman bagi konsumen. Jadi ketika ban belakang alurnya dibalik, tidak akan sesuai dengan rekomendasi pabrikan.

Setelah itu, ban belakang merupakan pusat traksi dari mobil berpenggerak belakang. Jika dibalik, mobil bisa jadi tidak seimbang, sehingga menimbulkan getaran dan ketika berjalan berasa goyang.

Toyota Fortuner