Perjalanan Hidup B. J. Habibie, Sang Jenius yang Menginspirasi

B. J. Habibie adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia. Selama hidupnya, Habibie dikenal sebagai orang yang jenius dan rendah hati.

B J Habibie

Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie atau B. J. Habibie dikenal sebagai seorang yang jenius. Kecerdasannya dalam bidang teknologi dan sains patut diacungi jempol. Ia pernah menciptakan pesawat yang menjadi salah satu aset bangsa Indonesia.

Bahkan, lantaran kepiawaian Habibie dalam hal tersebut, ia dijuluki sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Habibie juga lama menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), hingga akhirnya menjadi Presiden Republik Indonesia ke-3 pada tahun 1998.

Namun, pada Rabu (11/9/2019), kabar duka datang dari salah satu orang yang berjasa kepada tanah air ini. Thareq Kemal Habibie (anak B. J. Habibie), mengabarkan, bahwa B. J. Habibie berpulang setelah menjalani perawatan akibat gagal jantung di RSAD Gatot Soebroto.

Latar belakang keluarga B.J. Habibie

Habibie lahir di Parepare, Sulawaesi Selatan pada 25 Juni 1963. Ia merupakan anak keempat dari delapan orang bersaudara. Orang tuanya adalah Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardjo yang merupakan keturunan Jawa-Bugis.

Apabila melihat kedua orang tua Habibie, ibu dan ayahnya berasal dari keluarga terhormat. Kakek Habibie seorang ulama Islam terkenal dan keluarga ibunya berasal dari kalangan dokter.

Baca juga: Alasan Pentingnya Asuransi Keluarga yang Jarang Diketahui

Ayah Habibie merupakan lulusan sekolah pertanian di Bogor dan sempat menjabat sebagai Kepala Departemen Pertanian Negara Indonesia Timur. Pada tahun 1950, ketika usai Habibie sekitar 14 tahun, ayahnya meninggal dunia.

Masa sekolah Habibie dan kehidupan di perantauan

Ibunda Habibie tidak pernah menyerah dalam membesarkan anaknya. Ia mengasuh dengan penuh cinta, hingga memastikan Habibie dapat mengenyam pendidikan yang layak. Hal itu ia buktikan dengan menyekolahkan Habibie hingga keluar negeri.

Sejak kecil, Habibie sudah menunjukkan ketertarikannya pada mesin. Bahkan ia juga bercita-cita menjadi insinyur. Ia pernah bersekolah di HBS (Horgere Burger School).

Namun, pada tahun 1950, ia harus pindah ke Bandung bersama orang tuanya dan pindah sekolah ke Gouvernements Middelbare School. Lalu, melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pada tahun 1951—1954.

Baca juga: 5 Tren Pekerjaan Freelance 2019 untuk Menambah Penghasilan Bulanan

Setelah lulus SMA, Habibie belajar di perguruan tinggi, yaitu Fakultas Departemen Elektro, Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tapi, setelah selang satu tahun lulus dari ITB, Habibie pindah ke Jerman dan belajar di Rheinisch Westfählische Technische Hochschule (RWTH), Achen, Jerman Barat, mengambil jurusan pesawat terbang.

Ia menjadi mahasiswa Indonesia satu-satunya yang tidak menerima beasiswa dan berhasil meraih gelar doktor teknik dengan predikat summa cum laude.

Kisah cinta Habibie dan Ainun

Pertemuan Habibie dengan Hasri Ainun Basari (Ainun) usai kembali dari Jerman menjadi awal lahirnya hubungan di antara mereka.

Ainun diakui oleh Habibie sebagai sosok perempuan yang sangat cantik dan populer di sekolah.

Akhirnya, mereka resmi menikah pada 12 Mei 1962. Dari pernikahan itu, Habibie dan Ainun dikaruniai dua orang putra, Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Baca juga: Catat, Ini Lokasi Foto Prewedding Antimainstream di Indonesia

Susah senang selalu dijalani Habibi dan Ainun, mulai dari tinggal di Jerman sampai mengemban tugas sebagai Presiden. Ainun membuktikan cinta sejatinya kepada Habibie sampai nafas terakhir pada Mei 2010.

Kisah cinta keduanya tertuang dalam karya tulis Habibie yang berjudul Habibie & Ainun. Buku tersebut pun diangkat ke laya kaca dan menjadi salah satu fim terbaik di Indonesia.

Karier B. J. Habibie

Kegigihan Habibie dalam belajar tidak membuatnya lupa untuk bersosialisi dengan teman-teman kuliah.

Ia pernah mewakili mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman dengan menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Achen tahun 1957.

Salah satu proyek besar PPI yang pernah ia selenggarakan ialah seminar pembangunan.

Lalu, masa kuliahnya juga diisi dengan pekerjaan tambahan guna menanggung hidup bersama Ainun. Ia bekerja di bidang konstruksi ringan yang fokus dalam kontruksi perkertaapian Talbot.

Namun, setelah proyek konstruksi selesai, ia mendaftar di perusahaan pembuat pesawat Hamburger Flugzeug Bau (HFB), dimana perusahaan itu sedang mengembangkan pesawat Fokker F28.

Beberapa tahun setelah itu, Habibie diangkat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi disana.

Selanjutnya, pada 29 Maret 1978, ia dipercaya Soeharto menjadi Menteri Riset dan Teknologi RI.

Di Indonesia, ia banyak berkontribusi dalam urusan teknologi, salah satunya penerbangan. Pesawat buatannya ialah N-25 Gatot Kaca, CN-235, dan VTOL DO-31.

Ia pun mendirikan perusahaan transportasi yang fokus pada pengembangan pesawat terbang besutan dalam negeri, yaitu PT IPTN  (Industri Pesawat Terbang Nusantara).

Baca juga: Deretan Mobil Murni Buatan Indonesia Selain Esemka

Karena segudang prestasi yang dimiliki Habibie, ia diangkat sebagai wakil Presiden Soeharto. Lalu, setelah Soeharto lengser, Habibie naik menggantikan posisi Soeharto sebagai Presiden.

Perjalanan hidup Habibie menjadi salah satu peristiwa sejarah Indonesia atas lahirnya putra terbaik dalam negeri. Namun, di usia ke-83 tahun, Habibie berpulang.

Selamat jalan, Bapak B. J. Habibie, Ibu Ainun sudah menantimu. Semoga kami bisa meneruskan cita-citamu untuk Indonesia.