Hari Buruh sebagai Refleksi Diri, Apa Saja yang Harus Dipahami?

By Rismawati Idris - May 2, 2019

Hari Buruh atau May Day  diperingati setiap 1 Mei. Hari tersebut mempunyai makna dan sejarah yang begitu penting mengenai kesedihan dan perjuangan para buruh dalam memperjuangkan haknya.

Hari Buruh atau May Day yang jatuh pada 1 Mei adalah satu di antara momen besar yang diperingati berbagai negara, salah satunya Indonesia.

 

Sebagian negara merayakan Hari Buruh dengan memberikan jatah libur atau menyelenggarakan aksi sosial demi mengingatkan  pemerintah terhadap kesejahteraan para buruh sekaligus mengenang pendahulu buruh  yang berjuang menuntut perbaikan hak di masa sebelum.

 

Lantaran prosesi panjang yang berlangsung hingga lahirnya Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei, Hari Buruh tidaklah lahir begitu saja. Ada makna dan sejarah terkait yang membuat Hari Buruh penting untuk diketahui.

Demonstran buruh Amerika menuntut kesejahteraan

Pada mulanya Hari Buruh terjadi karena adanya gerakan sekelompok buruh di Amerika Serikat yang menuntut perbaikan hidup pekerjaannya, mulai dari jam kerja, upah, dan iklim bekerja yang dinilai kurang sehat pada masa tersebut.  Mereka membentuk aksi mogok bekerja selama kurang lebih seminggu lamanya.

 

Di fase awal Mei 1886 ini, ada sekitar 100 ribu buruh yang bergabung dalam aksi. Namun, bertambah pada hari berikutnya hingga mencapai 300 ribu demonstran buruh yang mogok bekerja.

 

Aksi mogok kerja tersebut membuat pemerintah dan para kapitalis geram. Bukan hanya kerugian saja yang didapatkan kapitalis saat aksi ini berlangsung, tetapi iklim Amerika Serikat, selaku tempat terjadinya aksi, pun menegang.

 

Demi menjawab aksi yang sedang berlangsung tersebut, pemerintah menurunkan aparat polisi untuk mengamankan situasi. Dirangkum dari berbagai sumber, setidaknya ada beberapa orang buruh yang terkena tembakan dan aktivis buruh pun ditangkap serta diadili.

 

Akibat situasi yang semakin kacau itu, para buruh pun marah dan mendesak pemerintah untuk membebaskan para aktivis buruh yang ditahan dan menuntut jawaban atas tuntutan yang mereka layangkan.

 

Sejak peristiwa itu berlangsung,  para buruh di Amerika Serikat pun mendapat hak otoritasnya sebagai pekerja dengan benar, sesuai hak asasi mereka sebagai manusia. Dengan begitu, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh atau May Day oleh Kongres Sosialis Dunia di Paris pada 1 Mei 1889.

Bagaimana di Indonesia?

Ketidakjelasan jam kerja, upah, dan iklim kerja yang tidak jelas tak hanya terjadi di Amerika Serikat saja. Di Indonesia, para pekerja pun menaruh harapan yang sama. Negara yang sedikit banyaknya melanggengkan budaya Eropa (Belanda) ini juga menghidupkan iklim kerja yang tak jauh berbeda.

 

Ketika itu, pekerja di Indonesia harus bekerja selama 19-20 jam per hari. Mereka hanya diberikan waktu istirahat selama 4 jam saja. Para pekerja ini pun akhirnya menuntut hak mereka dengan meminta pengurangan jam kerja dan perbaikan upah.

 

Akan tetapi, meski sudah beberapa kali melakukan aksi, pemerintah tidak menggubris tuntutan mereka. Kemudian di periode setelahnya pemerintah merespons baik demonstrasi yang mereka lakukan dengan memberikan perbaikan jam kerja menjadi 8 jam dan kenaikkan upah.

 

Para pekerja ini pun akhirnya menuntut hak mereka dengan meminta pengurangan jam kerja dan perbaikan upah sekaligus memperingati Hari Buruh Sedunia. Dicatat oleh Kumparan.com, setidaknya sudah sejak lama para buruh melakukan aksi, tetapi pada 1 Mei 2000 para buruh di seluruh Jabodetabek bergabung dan menggelar aksi mogok selama 1 pekan penuh dengan memblokade jalan.

 

Selain itu, pada tahun 2013, di masa Presiden SBY, para buruh di Indonesia  mendapatkan hadiah khusus. Secara khusus Presiden SBY menjadikan May Day sebagai hari libur nasional agar para buruh dapat istirahat atau melakukan aksi sosial.

Refleksi bagi kita

Hari Buruh yang kita peringati ini memang lahir dari sebuah sejarah yang menyedihkan. Para pejuang buruh menuntut keadilan dan kesejahteraannya sebagai pekerja dengan aksi demo. Di antara mereka ada yang ditangkap dan diadili bahkan menjadi korban tembakan saat bersitegang dengan polisi.

 

Berkat perjuangan dan usaha keras mereka, kaum kapitalis dan pemerintah pun akhirnya memahami apa yang sebenarnya menjadi hak dan kewajiban mereka sebagai pemberi kerja dan penentu keputusan.

 

Perlu kita pahami pula, baik buruh maupun karyawan, adalah sama-sama pekerja yang sedemikian rupa perlu dihargai kinerja dan prestasinya di perusahaan. Mereka tak hanya memberikan tenaga dalam memajukan usaha di perusahaannya masing-masing, tetapi pun perlu dipahami sebagai individu yang bebas, yang pendapatnya harus didengar dan diperlakukan dengan baik.

 

Karenanya, momen Hari Buruh perlu menjadi sebuah renungan agar kita dapat menghargai sebuah perjuangan dan pekerjaan orang lain. Selamat Hari Buruh.

Berita Terkait

Author

Perempuan Canggih. Pemuja keharmonisan, puisi, dan filologi.