Sejarah “Mobil Penculik” yang Melegenda di Indonesia

05 July 2019

Dikenal sebagai “mobil penculik”, Toyota FJ40 adalah sedikit mobil yang melegenda di Indonesia. Kenapa bisa begitu? Berikut jawabannya!

Kekar, macho, sangar bisa jadi menggambarkan mobil besutan Toyota yang satu ini. Tak heran, pada era 1970-1980an, saat masa jayanya, mobil ini dikenal dengan “mobil penculik” lantaran banyak film action di Indonesia saat itu menggunakan mobil tersebut sebagai kendaraan yang digunakan pelaku kejahatan.

 

Image sangar melekat dalam Toyota Land Cruiser, mobil bergaya ala jip ini memang bisa diandalkan di berbagai medan jalan. Salah satu seri Toyota Land Cruiser yang melegenda adalah FJ40. Mobil ini juga sering disebut dengan nama mobil hardtop

 

Melihat sejarahnya, Toyota Land Cruiser pertama kali lahir di Jepang pada tahun 1951. Amerika Serikat yang memesan langsung mobil ini pada pihak Toyota dan mengganti namanya dengan Jeep BJ.

 

Karena akan digunakan untuk kendaraan dalam perang, test driver Toyota Ichiro Taira mengendarai prototipe Jeep BJ ini sampai ke tingkat keenam Gunung Fuji, dan menjadi mobil pertama yang berhasil sampai tingkat ini.

 

Baru pada tahun 1954, nama Land Cruiser mulai dikenalkan Toyota secara resmi dan langsung memiliki kompetitor di Inggris dengan nama Land Rover. Keduanya pun terus berkompetisi dengan produk mobil jip hingga saat ini.

 

Seiring perkembangan, Toyota Land Cruiser pun memiliki kembaran, yakni Lexus LX sejak tahun 1996.

 

Nah, Toyota Land Cruiser seri FJ40 sendiri diluncurkan pada 1960 dan mengaspal hingga 1984 sebelum digantikan dengan generasi berikutnya.

Dalam kode bahasa desain Toyota, mobil ini memiliki kode J. Kode FJ40 berarti mobil ini adalah Toyota seri J (Land Cruiser) dengan mesin seri F generasi 4 dengan model bodi 0.

 

Masuknya FJ40 ke Indonesia berawal dari rombongan pejabat militer Indonesia yang mengunjungi Jepang pada tahun 1960 dan terpesona dengan mobil ini. Kala itu FJ40 jadi kendaraan militer Jepang.

 

Pemerintah Indonesia pun akhirnya mengimpor mobil ini untuk kendaraan operasional Tentara Nasional Indonesia. Saat itu, mobil ini terkenal dipakai oleh Resimen Tjakrabirawa, pasukan yang bertugas khusus menjaga keamanan Presiden RI pada zaman pemerintahan Soekarno. Sekarang pasukan ini lebih dikenal dengan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Diproduksi lokal

Masyarakat umum mulai banyak menggunakan Toyota FJ40 setelah mobil ini diproduksi di dalam negeri. Pada 1970, PT Gaya Motor (anak perusahaan PT Astra Internasional Tbk) merakit Toyota FJ40 di Jalan Sulawesi 2, Tanjung Priok. Hal ini kian melejitkan FJ40 hingga sekarang.

 

FJ40 diciptakan dalam berbagai varian, seperti Hardtop, Canvas Top dengan short dan medium wheelbase, Pick-up dengan short dan long wheelbase, Station Wagon, serta Troopcarrier.

 

 

Namun untuk produksi di Indonesia hanya ada versi Hardtop tiga pintu. Sementara versi Canvas Top lebih banyak digunakan untuk kepentingan militer. Jadi ini adalah awal mula kenapa mobil ini disebut juga Toyota Hardtop oleh masyarakat Indonesia.

 

Ada banyak hal mengapa Toyota FJ40 atau Toyota Hardtop ini menjadi salah satu mobil legenda di Indonesia.

 

Sebagai kendaraan standar militer, tentunya mobil bergaya jip ini memiliki dan dibekali dengan rangka dan bodi yang kokoh. Keduanya menggunakan baja solid, sehingga tetap stabil saat melintasi medan jalan yang terjal.

 

Di kalangan off-roader, untuk keamanan, ada pula yang ditambah dengan roll bar, sehingga saat mobil terguling, baik pengemudi dan penumpang tetap terlindungi keselamatannya.

Torsi badak

Kebanyakan, Toyota FJ40 yang ada di Indonesia menggunakan mesin seri F OHV 6 silinder segaris berkapasitas 3.878 cc. Pada tahun 1975 Toyota mengganti mesin F nya dengan 2F yang masih bensin OHV 6 silinder segaris dengan kapasitas mesin 4.230 cc. Keduanya menggunakan bahan bakar bensin. Transmisi yang digunakan manual 4 percepatan dengan sistem 4×4 part time (pilihan penggerak 4 roda secara manual).

 

Mesin buas ini menghasilkan tenaga maksimal hingga 93 daya kuda, tidak heran bila mobil ini bahkan sanggup digeber hingga 140 kilometer per jam. Karena kekuatan pula, banyak kru film atau rumah produksi yang memanfaatkan Toyota FJ40 untuk menarik genset.

 

Hampir tidak ada fitur canggih yang terpasang pada Toyota FJ40. Semua fitur masih serba manual tanpa peralatan elektrik yang berpotensi menyusahkan apabila mobil ini sedang diajak menelusuri hutan, off-road, atau bahkan terjebak di lumpur.

 

Dengan ground clearance yang tinggi. Selain itu, posisi perangkat kelistrikan berada di bagian atas. Kelebihan Toyota FJ40 adalah daya tahannya, baik bagian mesin maupun kaki-kakinya yang jarang dikeluhkan gampang rusak.

 

Toyota FJ40 juga memiliki tampang yang kekar, macho, sangar sehinga mampu mendongkrak percaya diri orang yang berada dalam kabinnya.

 

Meski berhenti diproduksi pada tahun 1984, mobil ini masih banyak beredar, dikoleksi, bahkan digunakan untuk mendukung aktivitas wisata. Jika pernah berkunjung ke kawasan Bromo di Jawa Timur atau mengikuti Lava Tour Merapi di Yogyakarta pasti tidak asing dengan Toyota FJ40 ini.

Sekedar informasi, Toyota FJ40 yang mulus dan orisinil adalah idaman kolektor pecinta otomotif. Jadi jangan heran bila harganya di bursa pasar mobil bekas sangat ‘abu-abu’, dapat mencapai ratusan juta rupiah.

 

Kami sudah melakukan pengecekan di salah satu marketplace yang menjual mobil bekas. Ada unit Toyota FJ40 produksi tahun 1982 dengan keadaan orisinil dan full restorasi harganya Rp 399.000.000. Sementara lainnya, produksi tahun 1976 dihargai Rp 199.000.000.

 

Bagaimana, Anda tertarik mengoleksi Toyota FJ40 yang melegenda ini?

Author

Sing with me, sing for the year. Sing for the laughter and sing for the tear. Sing with me, it's just for today. Maybe tomorrow the good Lord will take you away. - Dream On, Aerosmith -

SHARE