Mengenal Mitos dan Sejarah Penanggalan Tahun Kabisat 29 Februari

Tahun kabisat atau tanggal 29 Februari terjadi 4 tahun sekali. Karena itu, tanggal 29 Februari memiliki keunikan tersendiri. Ada beragam mitos terkait 29 Februari, apa saja itu?

Tahun kabisat dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah kabisah. Tahun tersebut adalah tahun yang menambah 1 hari dalam bulan Februari, yang awalnya hanya 28 hari saja, menjadi 29 hari selama empat tahun sekali.

 

Tahun kabisat mempunyai sejarah yang cukup menarik dan sangat erat dengan berbagai mitos yang ada di belahan dunia, termasuk di Indonesia.  Lalu, hal menarik apa sajakah yang berhubungan dengan tahun kabisat ini?

 

Sejarah terbentuknya tahun kabisat

Tahun kabisat termasuk sebagai tahun langka dalam sistem penanggalan dunia, muncul selama empat tahun sekali. Tahun tersebut pertama kali diusulkan oleh seorang astronom bernama Sosigenes of Alexandria. Sosigenes adalah astronom yang hidup di zaman kekaisaran Julius Caesar pada masa Romawi kuno.

 

Pada masa itu terjadi permasalahan mengenai perubahan penanggalan Natal, yang sebelumnya tanggal 25 Desember menjadi 21 Desember. Demi mengatasi masalah itu, Caesar meminta bantuan Sosigenes untuk  mengulang sistem penanggalan agar lebih tepat dan akurat.

 

Sosigenes kemudian melakukan penyederhanaan perhitungan tanggal. Menurutnya, perhitungan sebelumnya dirasa rumit dan sulit dipahami, yaitu 364, 25 hari dalam setahun. Lalu ia genapkan perhitungan tanggal menjadi 365 hari.

 

Lantas diapakan sisa hari tersebut? Sisa dari perhitungan yang telah dilakukan olehnya itu disatukan menjadi satu hari. Kemudian, digabung ke dalam bulan Februari yang memiliki jumlah hari paling sedikit di antara bulan yang lain.  Dengan perhitungan yang dilakukan itu, bulan Februari pun mendapat tambahan satu hari selama empat bulan sekali sehingga dikenal dengan tahun kabisat.

 

Mengapa dinamakan tahun kabisat?

Di Indonesia, penamaan tahun kabisat mengikuti pola penamaan yang diambil dari bahasa Arab. Kabisat terbentuk dari kata ‘kabiasah’ yang artinya melompat. Melompat yang dimaksud di sini ialah perpindahan dari tanggal dari 28 Februari ke 1 Maret pada tahun di luar kabisat. Karenanya, masyarakat menggambarkan tahun kabisat dengan simbol katak.

 

Berbeda dengan negara Asia lainnya, di Malaysia dan Singapura menamai tahun kabisat dengan sebutan Leap Year. Istilah Leap Year ini lebih dipilih karena mengikuti sistem penamaan Inggris dan negara-negara lain pun banyak yang menggunakannya.

 

Tahun kabisat tetap dirayakan

Lantaran adanya tahun kabisat, mereka yang ulang tahun di tanggal 29 Februari bukan berarti tak bisa merayakan ulang tahunnya. Para leaper (sebutan orang yang lahir di tahun kabisat) menyiasati perayaan ulang tahun mereka dengan merayakan lebih awal, di tanggal 28 Februari, atau mengundur perayaannya pada tanggal 1 Maret.

 

Mengenai perayaan ulang tahun para leaper ini, di Indonesia perayaan ulang tahun tersebut tidak menjadi momentum yang spesial. Malahan, mereka yang berulang tahun di tanggal 29 Februari cenderung merayakan sendiri-sendiri pada tanggal 28 Februari atau tepat dini hari pada tanggal 1 Maret.

 

Berbeda dengan negara lain, di  kota Anthony, Texas, Amerika Serikat, para leaper bergabung dan membuat acara khusus tahunan yang dinamai Leaper Festival. Festival ini diisi dengan parade balon udara, karnaval, dan turnamen yang bertujuan untuk merayakan hari ulang tahun mereka. Berkat perayaan yang terbilang meriah, kota Anthony dijuluki sebagai kota leaper dunia.

 

Seru, ya.

Mitos-mitos di balik Tahun Kabisat

Selain itu, tahun kabisat juga banyak menyimpan berbagai mitos yang diyakini oleh masyarakat. Di balik peristiwa empat tahunan itu, mereka yang lahir di tahun tersebut dianggap mempunyai sesuatu yang istimewa yang tak dimiliki oleh orang lain. Entah itu dari kepribadian hingga prestasi gemilang yang tak didapat oleh orang lain.

 

Salah satunya seperti pesohor dunia yang terkenal: Lord Byron, yang terkenal berkat puisinya, dan atlet sepak bola, Darren Ambrose. Atau jika di Indonesia seperti Nh. Dini, sastrawan terkenal sepanjang masa yang banyak menerima penghargaan nasional dan internasional berkat karya kepenulisan sastranya.

 

Tak hanya itu, ada pula kepercayaan masyarakat yang menyebut bahwa mereka yang lahir di tanggal 29 Februari akan meninggal pada tanggal yang sama. Seperti yang dikutip dari berbagai sumber, salah satunya  ialah James Milne Wilson, pemimpin ke-8 Tasmania, seorang leaper kelahiran 1812 dan meninggal di hari ulang tahunnya pada 29 Februari 1880.

 

Benarkah demikian?

 

Dari fakta dan mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, mungkin ada benarnya dan mungkin saja tidak sesuai. Paling tidak, itulah fakta menarik tahun kabisat yang telah Seva.id kumpulkan untuk Anda. Lalu, bagaimana menurut Anda?