Hari Raya Nyepi Jadi Inspirasi Dunia untuk Mengurangi Polusi

Hari Raya Nyepi memiliki filosofi yang kuat untuk memaknai hidup. Selain itu, ternyata dengan menyepi, ada sejumlah penghematan yang cukup signifikan. Apa saja?

Hari Raya setiap agama biasanya dirayakan dengan meriah, bertemu keluarga, bercerita, dan lain-lain. Berbeda dengan Hari Raya Nyepi tahun ini, yang jatuh pada tanggal 7 Maret 2019. Nyepi yang dirayakan oleh seluruh Umat Hindu harus mematuhi catur brata penyepian.

 

Aturan pertama adalah Amati Geni, yaitu tidak menyalakan api, termasuk memasak. Itu berarti, umat Hindu juga akan melakukan upawasa atau puasa. Lalu Amati Karya, yang berarti tidak bekerja untuk menyepikan indria.

 

Aturan ketiga adalah Amati Lelungaan atau tidak berpergian, yang bermakna untuk mengistirahatkan badan. Terakhir, yaitu Amati Lelanguan atau tidak mencari hiburan.

 

Jadi, saat Nyepi, umat Hindu akan meredakan nafsu indria yang dipercaya dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga meningkatkan kualitas hidup. Lalu, bagi umat yang memiliki kemampuan khusus, mereka akan melakukan tapa yoga brata samadhi saat Nyepi.

 

Inspirasi dunia untuk mengurangi polusi

Tidak adanya aktivitas selama Nyepi, membuat inspirasi bagi PBB untuk meresmikan World Silent Day (WSD) yang dirayakan setiap tanggal 21 Maret. Tanggal ini dipilih sebagai simbol peralihan menuju kehidupan baru, saat matahari berada pada titik vernal equinox dan akan bergerak dari khatulistiwa ke utara.

 

Sesuai dengan namanya, WSD mengajak masyarakat dunia untuk memberikan kontribusi terhadap bumi untuk mengurangi polusi, konsumsi energi, sumber daya alam, dan lain-lain dalam sehari.

 

Ide WSD muncul saat penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim (COP 13 UNFCCC) di Bali. Melalui beberapa kunjungan ke kampung adat, akhirnya tercetus gagasan untuk mengangkat Hari Raya Nyepi sebagai salah satu cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di dunia.

 

Hal tersebut akhirnya ditawarkan kepada dunia internasional, sehingga lahirlah World Silent Day atau Hari Hening Sedunia.

 

Perayaan Nyepi di Bali

Selain terkenal dengan alamnya, Bali juga menawarkan keunikan budaya, salah satunya Nyepi. Masyarakat Pulau Dewata yang mayoritas beragama Hindu, akan mengurung diri di dalam rumahnya masing-masing untuk melaksanakan catur brata penyepian.

 

Bukan hanya warga lokal, seluruh wisatawan yang menghuni Bali juga tidak diperbolehkan keluar hotel atau tempat tinggal mereka selama 24 jam, mulai pukul 06.00 waktu setempat hingga pukul 06.00 keesokan harinya.

 

Otomatis, Bali akan sunyi selama sehari. Setelah itu, semua pintu masuk Bali akan ditutup selama perayaan Nyepi, mulai dari lima pelabuhan laut yang ada di Bali hingga Bandara Internasional Ngurah Rai.

Bali akan tampak seperti pulau mati tanpa penghuni karena gelap gulita dan tidak ada aktivitas. Namun, Nyepi justru tidak menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Malah, ini menjadi daya tarik tersendiri bagi Bali karena mungkin tidak ada lagi negara lain di dunia yang melakukannya.

 

Wisatawan lokal maupun internasional bisa menikmati keheningan dan kedamaian saat peralihan tahun saka 1940 ke 1941 di Bali.

 

Keunikan Hari Raya Nyepi di Bali

Selain menjadi daya tarik wisatawan, Nyepi di Bali juga memiliki keunikan lain. Balipost.com menyebut, Bali dapat mereduksi emisi gas karbondioksida sekitar 20.000 ton saat Nyepi. Bisa dikatakan, Bali memiliki kesempatan sehari untuk menyegarkan diri.

 

Lalu, terjadi penghematan listrik, air, dan bahan bakar lainnya sampai dengan 70 persen, atau setara dengan Rp 4,5 miliar. Artinya, Hari Raya Nyepi akan menghemat sekitar 300 megawatt listrik serta ratusan ribu liter bahan bakar minyak dalam sehari.

 

Diluar sisi ekonomi, Nyepi menyajikan ketenangan yang luar biasa. Setelah setahun merasakan kesibukan yang terjadi, seluruh masyarakat Bali bisa menyegarkan diri dalam sehari tanpa adanya kegiatan dan suara kendaraan.

 

Dengan keunikan-keunikan Hari Raya Nyepi di atas, apakah Anda tertarik untuk mencobanya di Bali?