Evolusi Empat Dekade Toyota Kijang: Langkah Awal Sang Legenda, Kijang Buaya

14 November 2017

Empat puluh tahun sudah Toyota Kijang membangun asa sebagai salah satu ikon mahakarya otomotif Indonesia. Tak sekedar menjadi motor penggerak ekonomi negeri, Toyota Kijang pun terus tumbuh menjadi simbol mobil yang menyatukan setiap keluarga lewat ikatan emosi yang erat, melalui penyempurnaan kemewahan, reliabilitas, efisiensi, serta kemampuan multifungsi.

Dilahirkan di tahun 1977, Toyota Kijang menunjukkan evolusi yang sangat signifikan.  Bermula sebagai kendaraan niaga berkonsep Basic Utility Vehicle (BUV), kini perkembangan Kijang melompat jauh  menjadi salah satu Multi Purpose Vehicle (MPV) terbaik di Indonesia.

Angka total penjualan lebih dari 1,75 juta unit sejak tahun 1977-2017 menjadi pembuktian sahih, betapa evolusi Toyota Kijang sukses dan dicintai keluarga Indonesia. Angka ini belum termasuk ekspor Toyota Kijang sebagai kendaraan berstandar global di 29 negara, dengan angka fantastis 1.400 unit/bulan selama tahun 2017. Sangat membanggakan!

Dan semua perjalanan kesuksesan Kijang bermula dari sosok mobil pikap kompak, yang memiliki fitur bisa dihitung oleh jari. Ya, inilah Kijang ‘Buaya’.

Kembali ke era 60-an akhir, Indonesia  sedang memulai proses pembangunan terstruktur melalui Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Demi mendukung program tersebut, dibutuhkan alat transportasi yang reliabel untuk mendukung mobilitas dan distribusi barang hingga sampai ke masyarakat.

Kebutuhan inilah yang dibaca oleh Toyota, yang masuk ke Indonesia melalui grup Astra sejak 1969 sebagai agen tunggal Toyota Motor Sale Co. Ltd (TMS), serta dilanjutkan pendirian PT Toyota Astra Motor dua tahun setelahnya. Momen tersebut bersamaan pula dengan penggalakkan program Kendaraan Bermotor Niaga Serbaguna (KNBS) oleh pemerintah.

Momen inilah yang kemudian menjadi ‘penggerak’ Toyota untuk menciptakan sebuah kendaraan yang mengambil konsep Basic Utility Vehicle (BUV). Dan pada tahun 1972 project BUV langsung tancap gas di bawah kendali Osamu Ohta (Manager Planning & Administration Section of Oceania & SE Asia Division TMS) dan Ohyama (Chief Engineering Toyo-Ace) sebagai Chief Engineer.

‘Embrio’ Toyota Kijang kemudian mulai diperkenalkan di ajang Jakarta Fair 1975, meski baru berbentuk rangkaian komponen mobil. Dua tahun setelahnya, lebih tepatnya pada tanggal 9 Juni 1977, Toyota Kijang pun akhirnya membuka tabir jati dirinya di Hotel Hilton, Indonesia.

Faktor kesederhanaan menjadi impresi awal dari Toyota Kijang generasi pertama. Dibanderol dengan harga sekitar Rp 1,3 juta, mobil berkode KF10 ini mengusung panel bodi yang dibentuk menggunakan shearing machine, mesin press break, dan mesin las. Alhasil ‘jubah’ Toyota Kijang yang berdiri di atas sasis ladder frame ini kaku dan mengotak layaknya kotak sabun.

Secara teknis, Toyota Kijang mengusung mesin 3K 1.200 cc 4-silinder OHV milik Toyota Corolla. Mesin tersebut dipadukan transmisi manual 4-percepatan dan sistem penggerak roda belakang. Kombinasi teknologi tersebut sanggup mendukung mobilitas dan kelincahan mobil berbobot kurang dari 1 ton dengan lokalisasi komponen mencapai 19%.

Ada dua cara mudah untuk mengenali Toyota Kijang generasi pertama ini. Cara pertama adalah melihat kaca jendela pintu yang absen digantikan terpal atau plastik. Sedangkan cara kedua adalah membuka kap mesin yang terbuka hingga samping bodi. Inilah yang mengakibatan generasi pertama Kijang dikenal dengan sebutan ‘Kijang Buaya’.

Sekalipun dikenal sebagai Kijang Buaya, pada masanya produk ini menuai kesuksesan besar. Selain alasan hemat dalam hal perawatan, ia juga didukung performa mumpuni, mesin tangguh dan bandel, serta memiliki kemampuan serbaguna. Tak kalah penting adalah penempatan bonnet (kap mesin depan), dimana hal ini menambah faktor keselamatan mobil dibandingkan mobil KNBS sekelasnya.

Total 26.886 unit Kijang Buaya resmi terjual sejak masa produksi 1977-1980. Dan di tahun 1980, lahirlah penyempurnaan Kijang yang menjadi fondasi awal ‘transformasi’ kendaraan niaga menjadi kendaraan keluarga.

Seperti apakah sosok penyempurnaan tersebut, tunggu lanjutan artikel seri ‘Evolusi Empat Dekade Toyota Kijang’ berikutnya.

SHARE