Makna dan Filosofi Lomba 17 Agustus yang Jarang Diketahui

By Rismawati Idris - August 14, 2019

Kompetisi lomba 17 Agustus mempunyai makna yang cukup mendalam tentang sejarah bangsa. Simak lengkapnya

LOMBA 17 AGUSTUS

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus selalu memberikan kesan tersendiri. Di tanggal tersebut, masyarakat Indonesia banyak mengisi hari kemerdekaan dengan melakukan berbagai kegiatan, seperti upacara bendera atau mengadakan lomba.

 

Namun, yang paling ditunggu ialah perlombaan yang dilakukan di setiap penjuru kota. Perlombaan ini menjadi salah satu tradisi tahunan yang  dilakukan secara serentak usai upacara bendera.

 

Sebagai salah satu upaya menjaga dan meng-upgrade semangat kemerdekaan, beragam lomba dan hadiah menarik disiapkan. Meski setiap tahunnya lomba 17 Agustus yang digelar cenderung sama, tetapi tak banyak yang tahu bahwa lomba-lomba tersebut sarat akan makna.

Panjat pinang

Lomba panjat pinang merupakan salah satu perlombaan yang paling iconic. Perlombaan ini diikuti oleh sekelompok orang yang memperebutkan hadiah yang digantung di atas puncak pohon dengan memanjat pohon tersebut.

 

Untuk sampai ke puncak dan menjadi pemenang tidaklah mudah. Para peserta harus membuat sejumlah strategi agar dapat memanjat pohon pinang tanpa hambatan. Pasalnya, pohon pinang yang dipanjat sudah diolesi oli atau minyak sehingga peserta akan mudah jatuh dan gagal memanjat.

 

Perlombaan panjat pinang ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Di masa tersebut, perlombaan panjat pinang digelar sebagai sarana hiburan dalam acara pesta orang Belanda, dengan menjaring rakyat pribumi untuk menjadi peserta.

 

Baca juga: Cara Mudah Menghasilkan Foto Kece Menggunakan Smartphone

 

Meski memberikan memori yang kurang mengenakkan, lomba panjat pinang mengajarkan kita untuk menjunjung kerja sama. Bahkan, lomba itu juga menyimpan makna semangat yang tersirat untuk tak kenal lelah dalam mencapai apa yang diinginkan.

Balap karung

Tak kalah populer dengan panjat pinang, lomba balap karung juga sangat diminati masyarakat, baik anak-anak maupun dewasa. Lomba ini menjadi simbol hadirnya penjajahan Jepang di Indonesia.

 

Kala itu, masyarakat Indonesia belum cukup mampu untuk membeli pakaian. Untuk mempunyai pakaian, masyarakat Indonesia menjadikan karung goni sebagai alternatif pakaian. Sebab, pada masa penjajahan Jepang, hanya karung goni saja yang dimiliki dan mudah ditemukan di Indonesia.

Lomba engrang

Sebagai objek penjajahan, bukan berarti Indonesia pasif dan tidak melawan. Banyak cara yang dilakukan masyarakat pribumi dalam melawan penjajahan, salah satunya dengan membuat perlombaan engrang.

 

Lomba ini diciptakan khusus untuk mengejek penjajah. Diketahui dari Good News From Indonesia, Sejarawan dan Budayawan, JJ Rizal menjelaskan bahwa lomba engrang memiliki makna ejekan yang bertujuan untuk  mencibir orang Belanda yang umumnya bertubuh tinggi (jangkung).

 

Selain itu, jika dilihat dari pesan yang ingin disampaikan dari lomba tersebut, permainan engrang mengajarkan peserta untuk tetap berhati-hati dalam melangkah agar tidak terjatuh saat berjalan yang umumnya susah.

Makan kerupuk

Lalu, tak hanya lomba balap karung saja yang menggambarkan kondisi kelam di Indonesia pada zaman penjajahan, lomba makan kerupuk juga menunjukkan gambaran serupa.

 

Pasalnya, lomba makan mempunyai makna historis yang menyedihkan soal pangan. Di masa itu, rakyat Indonesia mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan. Maka dari itu, lahirlah lomba makan kerupuk, yang dilakukan dengan mengikat kedua tangan agar masyarakat dapat makan.

 

Baca juga: Hari Buruh Sebagai Refleksi Diri, Apa Saja yang Harus Dipahami?

 

Walau terdengar menyedihkan sekaligus menjadi kritis situasi di masa silam, tapi jika diimplementasikan ke situasi saat ini, lomba makan kerupuk mengajarkan kita untuk menghargai bahan pangan.

 

Sebenarnya masih banyak perlombaan 17 Agustus yang dilakukan di Indonesia. Setidaknya, lomba-lomba di atas menjadi kompetisi tradisional yang masih eksis hingga kini dan mempunyai makna historis yang mendalam. Jangan lupa ikuti lomba-lombanya ya.

Berita Terkait

Author

Perempuan Canggih. Pemuja keharmonisan, puisi, dan filologi.