Indonesia Resesi, Benarkah Tidak Akan Terjadi?

Prediksi menyebutkan Indonesia resesi membuat khawatir. Padahal banyak faktor menyatakan sebaliknya. Benarkah faktanya?

Indonesia resesi

Indonesia resesi. Demikianlah hasil survei Bloomberg yang menyebut Indonesia masuk dalam daftar negara nomor 14 yang berpotensi alami resesi ekonomi global.

Kekhawatiran resesi di tingkat global meningkat setelah negara Amerika Serikat (AS) pun disebut bakalan masuk ke jurang resesi dalam waktu dekat.

Selain AS, diperkirakan negara-negara adidaya lain seperti sebagian besar anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, Australia, dan Kanada diperkirakan juga mengalami resesi. Gelombang resesi bahkan diperkirakan akan segera terjadi dalam tempo 12 bulan ke depan.

Baca juga: Resesi Ekonomi Terjadi di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?

Lalu, benarkah Indonesia akan masuk juga ke dalam jurang resesi?

Indonesia resesi

Fakta lapangan

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, risiko resesi ekonomi yang mengancam negara Indonesia hanya sebesar tiga persen. Ini cukup kecil dibandingkan negara lain yang memiliki risiko lebih tinggi bahkan ada yang mencapai 70 persen. 

Jadi sebelum khawatir berlebihan, sebaiknya ketahui sejumlah faktor di lapangan yang menyatakan kemungkinan Indonesia mengalami resesi sangat kecil. Apa saja faktor-faktor tersebut?

Hutang turun

Masih menurut Menkeu, jumlah hutang luar negeri negara telah mengalami penurunan. Ditambah, jumlah hutang korporasi juga semakin rendah.

Baca juga: NIK Jadi NPWP Sudah Diresmikan, Bagaimana Aturannya?

Meski optimis dapat lolos dari resesi, pemerintah dikatakan tetap bersiap memperkuat kebijakan moneter dan fiskal agar negara tidak terperosok ke dalam jurang resesi. 

Pertumbuhan ekonomi

Hal lain yang menjadi faktor penguat tidak terjadinya resesi adalah tingkat pertumbuhan ekonomi. Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi year on year (YoY) sebanyak 5,01 persen di kuartal I tahun 2022.

Ini menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi domestik negara sudah kembali ke batas historisnya di angka 5 persen dalam dua kuartal berurutan. Hal ini dianggap sebagai pencapaian yang positif bagi fondasi ekonomi nasional.

APBN

Indikator resesi lain biasanya merujuk pada surplus atau minusnya APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Namun sekarang, hal yang patut disyukuri adalah APBN hingga bulan Juni 2022 masih mencatatkan surplus!

Baca juga: Aturan Pajak Mobil Terbaru yang Berlaku di Indonesia

Surplus tersebut dicatat sebagai pencapaian terbaik setidaknya dalam rentang waktu 10 tahun terakhir! Mantap! 

Indonesia resesi

Inflasi

Hal ketiga adalah faktor inflasi. Meski mencatat kenaikan month to month (MtM) hingga 0,61 persen pada bulan Juni 2022 dan 4,35 persen YoY, jumlah kenaikan ini masih terbilang rendah jika dibandingkan negara lainnya.

Bandingkan dengan Singapura yang mencatatkan inflasi sebesar 5,6 persen pada bulan Mei, Korea Selatan sebesar 6 persen pada Juni, India sebesar 7,01 persen pada Juni dan Filipina 6,1 persen pada Juni.  

Nilai ekspor

Hal positif lain adalah meningkatnya nilai ekspor Indonesia pada bulan April 2022 sebesar USD 27,32 miliar. Jumlah ini menjadi catatan tertinggi setelah sebelumnya pada bulan Mei 2022 mencatat angka USD 26,5 miliar!

Baca juga: 1 Agustus, Harus Daftar MyPertamina untuk Isi Pertalite

Hal ini ditambah dengan surplus neraca perdagangan yang mencatatkan rekor terbesarnya sebanyak USD 7,56 miliar pada bulan April 2022.

Transaksi lainnya

Kemudian, catatan transaksi berjalan dan neraca pembayaran Indonesia masih juga dalam catatan surplus 0,07 persen dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) di kuartal I. Menurut perkiraan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo surplus ini masih akan berlanjut hingga kuartal II.

Indonesia resesi

Covid-19 melandai

Berdasarkan hitungan rata-rata harian, maka dalam sepekan terakhir kasus positif Covid-19 di Indonesia yaitu 2.785 kasus, Angka ini relatif rendah jika berbanding dengan negara lain di kawasan. 

Baca juga: Kenapa Pajak Mobil Tua Semakin Lama Semakin Murah?

Misalnya di Malaysia tercatat rata-rata angka hariannya sebanyak 3.182 kasus, Singapura sebanyak 8.813 kasus, bahkan di Korea Selatan ada penambahan sebanyak 40.266 kasus pekan lalu.   

Jadi setelah paparan faktor-faktor di atas, kemungkinan Indonesia resesi tampaknya tetap ada. Meski demikian, faktor tersebut menjadi salah satu indikator bahwa resesi global yang melanda tidak akan parah dan berimbas buruk pada ekonomi nasional.

Hal yang terpenting adalah tetap optimis dan percaya penuh kepada kinerja pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya. Harapannya Indonesia resesi terlewati dan menjadi kado HUT RI Ke-77 pada 17 Agustus 2022.