Hal Unik di Balik Layar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

By Arris Riehady - August 16, 2019

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia sesaat lagi. Untuk merayakannya, ketahui dulu hal unik di baliknya..

hal unik kemerdekaan Indonesia

MERDEKA! Bulan Agustus adalah bulan yang istimewa bagi bangsa Indonesia. Ya, tiap tanggal 17 Agustus, seluruh masyarakat Indonesia memperingati Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Tahun ini merupakan Peringatan Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Dari jauh hari pemerintah pun telah merilis logo dan tema resmi untuk memperingatinya.

 

Pemerintah melalui Kementerian Sekretariat Negara sudah menyampaikan bentuk logo angka 74 berikut slogan yang digunakan oleh masyarakat untuk berbagai kegiatan memperingati kemerdekaan Indonesia.

 

Baca juga: Liburan Puas dengan Promo Movic di Bulan Agustus

 

Sebelumnya, ketahui juga hal unik di balik kemerdekaan Indonesia.

hal unik kemerdekaan Indonesia

Soekarno tidak puasa

Seperti diketahui, 17 Agustus 1945 itu bertepatan dengan bulan Ramadan, yang artinya sebagian besar peserta proklamasi sedang berpuasa.

 

Sayangnya, Ir. Soekarno sebagai pembaca naskah proklamasi tidak bisa ikut berpuasa. Pada pukul 08:00 WIB, ia didiagnosa mengalami gejala malaria tertian.

 

Akhirnya, ia disuntik dan minum obat kemudian tidur beristirahat. Pada jam 09.00 WIB, Soekarno bangun dan memimpin upacara proklamasi pada pukul 10.00 WIB.

 

Namun, dengan semangat juang yang tinggi, beliau mampu dengan lantang menyatakan bahwa Indonesia telah merdeka.

 

Hingga kini, sebagian masyarakat Indonesia mengira bahwa Bapak Proklamasi membacakan naskah proklamasi dalam keadaan sehat.

Dokumen terbuang

Namanya negara yang baru saja merdeka, maka kelengkapannya pun belum sempurna. Dokumen penting seperti draft naskah proklamasi yang dibacakan Ir. Soekarno pun nyaris saja terbuang.

 

Untungnya draft naskah proklamasi berupa tulisan asli Ir. Soekarno ditemukan oleh wartawan yang bernama BM Diah.

 

Dokumen penting tersebut ditemukannya di tong sampah di kediaman Laksamana Maeda.

 

Tepat pada tanggal 29 Mei 1992, BM Diah memberikan naskah asli ini kepada pemerintah Indonesia sebagai dokumen bersejayah yang sangat berharga.

 

Sebenarnya sebelum dibuat oleh Ir. Soekarno dan Hatta, naskah proklamasi telah ditulis oleh Sutan Syahrir pada tanggal 14 Agustus 1945 setelah beliau mendengar kekalahan Jepang.

 

Namun ada beberapa revisi yang akhirnya ditulis tangan oleh Ir. Soekarno dan diketik ulang oleh Sayuti Melik.

 

Bendera kain sprei

Bila saat ini, masyarakat memperingati hari kemerdekaan Indonesia dengan upacara pengibaran bendera. Bendara yang digunakan pun biasanya bagus, lain hal saat proklamasi.

 

Bendera untuk upacara proklamasi saat itu dijahit oleh Fatmawati, istri Ir. Soekarno. Bahannya pun seadanya, yakni menggunakan kain merah yang dibeli dari penjual soto dan untuk warna putih menggunakan kain sprei di dalam lemarinya.

 

Sebenarnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 tempat pembacaan proklamasi tersedia bendera Indonesia. Namun ternyata ternyata bendera tersebut terlalu kecil apabila dinaikkan di tiang bendera. Ukurannya hanya 50 centimeter saja.

 

Mikrofon curian

Walau kemerdekaan merupakan hari yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, nyatanya upacara hanya diadakan dengan sangat sederhana.

 

Upacara diadakan tanpa musik dan protokol. Bahkan tiang bendera pun terbuat dari batang bambu.

 

Mikrofon yang digunakan oleh Ir. Soekarno ketika membacakan teks proklamasi pada saat upacara proklamasi di tanggal 17 Agustus 1945 tersebut adalah curian dari stasiun radio milik Jepang.

 

Suara rekaman

Zaman itu belum ada teknologi yang bisa langsung merekam suara Ir. Soekarno ketika membacakan teks proklamasi.

 

Suara yang masyarakat dengar ketika Ir. Soekarno membacakan teks proklamasi adalah rekaman. Jauh setelah Indonesia merdeka.

 

Suara tersebut sengaja direkam untuk kepentingan dokumentasi pada tahun 1951 di Radio Republik Indonesia.

Hanya tiga foto

Kalau Anda lihat di buku sejarah hanya ada tiga foto saat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ya, karena memang hanya itu dokumentasi otentiknya.

 

Jadi, Indonesia hanya punya tiga foto asli dokumentasi kemerdekaannya.

 

Frans Soemarto Mendur atau lebih akrab disapa Frans Mendur yang saat itu bekerja sebagai wartawan harian Asia Raya adalah orang di balik ketiga foto tersebut.

 

Saat memotret momen penting tersebut, Frans Mendur hanya berbekal sebuah kamera Leica dan satu rol film di dalamnya.

 

Sebenarnya sang kakak, Alex Impurung Mendur juga sempat mengabadikan pembacaan teks proklamasi dan upacara kemerdekaan. Sayang kamera dan rol filmnya dirampas dan dihancurkan tentara Jepang.

 

Beruntung, Frans Mendur sempat menyembunyikan rol film di kameranya.

hal unik kemerdekaan Indonesia

Logo 74 tahun Kemerdekaan

Logo yang tampil berwarna merah putih dengan angka 74 cukup simpel dengan menggunakan tipe font Monstserrat dan Palanquin.

 

Dilansir dari analisa.id, logo 74 tahun Kemerdekaan RI itu melambangkan sinergi, kolaborasi, inspirasi dan semangat bekerja tiada henti untuk membangun negeri.

 

Logo yang terdiri dari angka 7 dan 4, di antara angka tersebut terdapat sudut yang melambangkan kolaborasi dan visi menuju progres yang lebih baik. Sementara dari angka 7 ke 4 membentuk garis petir melambangkan gerakan, kerja, energi dan inspirasi.

 

Baca juga: Makna dan Filosofi Lomba 17 Agustus yang Jarang Diketahui

 

Dalam logo kali ini, tagline SDM Unggul Indonesia Maju juga diusung. Hal ini menggambarkan visi pemerintah dalam momentum ini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

 

Itu tadi hal unik kemerdekaan Indonesia. Luar biasa! Berangkat dari sebuah kesederhanaan, Indonesia kini berhasil menjadi bangsa yang besar.

 

Jangan sia-siakan jasa para pahlawan yang sudah mengorbankan segalanya untuk meraih kemerdekaan. Terus upgrade your life untuk membangun Indonesia!

Berita Terkait

Author

What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (dimana), Why (kenapa), dan How (bagaimana). Suka kecepatan dan ketinggian. I am @arristoocrazy!