microsleep saat berkendara

Jangan Anggap Enteng Microsleep Saat Berkendara, Kenali Tandanya!

Berkumpul bersama keluarga di kampung halaman merupakan momen yang dinantikan tiap Hari Raya Idul Fitri tiba. Karena itu, mudik menjadi budaya setiap tahunnya bagi mereka yang jauh dari kampung halaman dan jarang bertemu dengan keluarga.

 

Mudik menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau motor akan lebih nyaman karena bisa bersama-sama anggota keluarga, selain lebih bebas karena dapat berhenti di mana saja jika ada spot bagus untuk berfoto, beristirahat atau menginap pada saat lelah, dan lain-lain.

 

Meski begitu, mudik dengan kendaraan pribadi juga harus memperhatikan sisi keselamatan dalam berkendara sehingga perjalanan juga akan semakin nyaman dan aman.

 

Ya, saat melakukan perjalanan jarak jauh seperti mudik, pengemudi khususnya, akan mudah kelelahan dan hal ini menyebabkan microsleep.

 

Microsleep dan bahayanya

Info mengenai microsleep kini tengah banyak beredar di masyarakat. Apalagi menjelang mudik Lebaran seperti saat ini. Namun, apa itu microsleep?

 

“Microsleep atau adalah suatu kejadian hilangnya kesadaran otak mengendalikan tubuh akibat tidur yang sangat singkat, durasinya hanya antara satu hingga 30 detik saja. Gejala ini mirip seperti melamun atau bengong, sehingga bisa menyerang siapa saja. Biasanya muncul saat otak bekerja stagnan, seperti mengemudi di jalan tol dalam waktu lama,” kata Jusri Pulubuhu, pengamat keselamatan berkendara dan pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC).

 

Memang terbilang singkat, hanya sekitar setengah menit. Namun jika sedang mengemudikan kendaraan, tentu akan mengakibatkan kecelakaan fatal. Digambarkan Jusri, lengah satu detik di jalan raya dengan kecepatan 60 kilometer per jam, kendaraan akan meluncur 17 meter. Bisa saja kendaraan menabrak kendaraan lain yang ada di depan, meluncur tak terkendali, keluar jalur dan menabrak pembatas jalan, atau ditabrak kendaraan lain dari belakang.

 

Sangat berbahaya bukan?

 

Menghindari microsleep

Tenang, microsleep ini memiliki tanda-tanda jika akan datang, jadi penumpang dapat memperingatkan pengemudi sebelum terjadi kecelakaan. Biasanya microsleep ditandai dengan tatapan kosong, mengangguk atau menggelengkan kepala, kagetan, kurang respon jika diajak berbicara, sering berkedip, hingga  tidak dapat mengingat hal yang terjadi satu pada beberapa menit sebelumnya.

 

“Penumpang dapat membantu mengembalikan konsentrasi pengemudi misalnya dengan mengajak ngobrol, menjadi navigator, memberikan suplemen dan cemilan, serta memberikan kondisi jalanan di depan,” kata ucap Jusri.

 

Sementara dari sisi pengemudi sendiri untuk menghindari microsleep, seperti ditambahkan Jusri, dapat terus waspada dan memberikan stimulus ke otak seperti menganalisa pergerakan kendaraan lain serta mendengarkan kondisi di lingkungan sekitar.

 

Selain itu, berdasarkan penuturan dr. Dwi Lelandari, Sp,KFR, atau yang akrab disapa dr. Lela, Rehabilitation Medicine Specialist Mayapada Hospital Jakarta Selatan, untuk pengemudi yang ingin melakukan perjalanan jauh disarankan melakukan istirahat terlebih dahulu paling tidak 6 jam sebelum mengemudi perjalanan jauh. Jika perjalanannya lebih dari 4 jam, kira-kira per 2-4 jam, sebaiknya gunakan waktu 15 menit untuk istirahat ringan.

 

“Biasanya area tubuh seperti mata, leher, bahu, dan kaki menjadi area paling lelah selama berkendara jauh. Disarankan istirahat berupa tidur, atau bisa juga dengan melakukan terapi dan peregangan ringan pada area tubuh tersebut, sehingga lebih rileks dan bisa lanjut berkendara kembali,” terang dr. Lela.

 

Baca: Jangan Menyetir Mobil Anda Lebih dari 4 Jam! Ini alasannya

Yang terpenting, utamakan selalu keselamatan agar tidak terjadi kelalaian dalam berlalu lintas. Patuhi juga rambu-rambu yang ada dan berkendara dengan kecepatan yang wajar. Selamat mudik dan selamat bertemu dengan keluarga!


Posted

in

,

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *