Ternyata, Mobil Listrik Sudah Ada Sejak Satu Abad yang Lalu

07 November 2018

Perbincangan tentang mobil listrik seakan tidak ada habisnya. Banyak masyarakat yang menantikan kapan mobil listrik dan infrastrukturnya dapat digunakan di Indonesia. Pasalnya, berbagai pabrikan dunia sudah mulai berlomba mencetak mobil listrik yang berkualitas.

 

Tetapi, mobil listrik ternyata bukanlah suatu hal yang baru muncul. Teknologi ini sudah ada sekitar satu abad yang lalu. Orang yang pertama kali membuat mobil listrik hybrid di dunia adalah Ferdinand Porsche pada tahun 1898.

 

Founder dari perusahaan mobil sport Porsche ini memberi nama P1 pada mobil listrik buatannya. Banyak inovator pada saat itu yang menyadari bahwa mobil listrik memiliki permintaan yang tinggi, salah satunya adalah penemu ternama dunia, Thomas Edison. Ia mengakui bahwa kendaraan listrik merupakan teknologi yang bagus untuk dikembangkan.

 

Oleh karena itu, ia berusaha mengembangkan baterai kendaraan listrik yang lebih baik. Pada tahun 1914, Edison bekerja sama dengan Henry Ford untuk meneliti apa saja yang dibutuhkan untuk membuat kendaran listrik yang hemat biaya.

 

Selain mereka, ada beberapa perusahaan mobil yang juga ikut memproduksi mobil listrik. Sebut saja Detroit Electrics, Baker Electrics, dan Rausch & Langs yang berlomba-lomba membuat mobil listrik terbaik.

 

Mobil listrik sempat dijadikan taksi

Mobil listrik berkembang lumayan pesat pada masa itu. Bahkan, The New York Times mencatat, ada dua perusahaan, yaitu The Detroit Taxicab dan Transfer Company, yang sempat mengoperasikan hampir 100 unit mobil elektrik sebagai taksi karena permintaan pelanggan yang kebanyakan adalah ibu-ibu yang menggunakannya untuk berbelanja.

 

Pada masa itu, pelanggan lebih menyukai taksi bertenaga listrik karena suaranya lebih halus, penampilannya lebih elegan, dan bersih. Pelanggan pun rela menunggu taksi lebih lama dari biasanya demi taksi listrik. Akan tetapi, penampilan elegan yang dimiliki oleh taksi listrik masih jauh dari kata modern jika dibandingkan dengan saat ini. Bentuknya dulu menyerupai kotak telepon, tidak seperti sekarang yang sudah futuristik.

 

Walaupun begitu, mobil listrik jadul memiliki 12 baterai bertenaga 6 volt yang terletak di bagian depan serta belakang mobil. Baterai tersebut mampu membuat mobil berjalan sekitar 4 sampai 5 jam setelah ditambah daya.

 

Permintaan mobil listrik mulai redup

Kejayaan mobil listrik tak bertahan cukup lama. Pada tahun 1920, kendaraan bertenaga listrik mulai kurang diminati karena Amerika Serikat sudah memiliki sistem jalanan panjang yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya. Minat menjelajah masyarakat pun mulai tumbuh dan membutuhkan mobil yang dapat bertahan lebih lama untuk menemani perjalanan mereka. Hal ini pun mendesak keberadaan mobil listrik.

 

Pada akhirnya, kendaraan listrik perlahan menghilang seiring dengan ditemukannya minyak mentah. Selain harganya lebih murah, pompa bensin mulai bermunculan di mana-mana, sehingga konsumen jadi lebih mudah mendapatkan bahan bakar sampai ke pedesaan. Apalagi, tidak banyak orang pedesaan di Amerika yang memiliki listrik pada zaman tersebut. Maka dari itu, mobil berbahan bakar minyak lebih diunggulkan.

 

Faktor-faktor tersebut memaksa kendaraan listrik angkat kaki sepenuhnya pada tahun 1935.

 

Perkembangan mobil berbahan bakar minyak mengalami kemajuan pesat dan bertahan hingga sekarang. Model-model yang diciptakan pabrikan juga semakin melihat kebutuhan dan keinginan konsumen, menjadikan permintaannya semakin naik.

 

Mobil listrik kembali muncul ke permukaan

Sekarang, pasar terlihat mulai jenuh dengan model mobil-mobil yang ada, sehingga isu mobil listrik pun kembali mencuat. Sebagian pabrikan juga sudah mengeluarkan mobil-mobil bertenaga listrik bagi konsumennya. Faktor lain yang membangunkan mobil listrik dari tidur panjangnya adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat akan polusi dan bahaya pemanasan global yang meningkat.

 

Navigant Research mencatat, permintaan untuk kendaraan bertenaga listrik akan terus meningkat, baik permintaan terhadap mobil hybrid, plug-in hybrid, atau all-electric, karena harganya akan semakin turun. Konsumen pun membutuhkannya untuk menghemat biaya bahan bakar.

 

Penjualan kendaraan listrik juga diperkirakan akan tumbuh sampai dengan 7%, atau 6,6 juta unit per tahun di seluruh dunia pada tahun 2020 mendatang.

Sebagian negara di Eropa saat ini sudah mulai menerapkan kendaraan bertenaga listrik, tetapi bagaimana dengan Indonesia?

 

Memang, tidak mudah untuk menerapkan kendaraan bertenaga listrik jika tidak ada dukungan dari banyak pihak. Untuk itu, perlu adanya kolaborasi dari semua stakeholder. Bukan hanya pemerintah dan pengusaha, tetapi dukungan dari masyarakat juga sangat diperlukan untuk mewujudkan Indonesia yang memiliki kendaraan rendah emisi.

Ferdi Julias

SHARE