Mengenal Bau Nyale, Festival di Lombok soal Cacing Jelmaan Putri

13 June 2019

Indonesia tak pernah kehabisan festival budaya. Satu di antara banyaknya festival kebudayaan tradisional Indonesia yang menggaung di nusantara adalah Festival Bau Nyale.

Di setiap tanggal 20, bulan 10, penanggalan Suku Sasak, ribuan masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat, merayakan tradisi atau Festival Bau Nyale.

 

Tahun ini, berdasarkan 100 Calendar of Events 2019 yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Festival Bau Nyale jatuh pada 20 Februari. Perayaan akan dilangsungkan di sepanjang Pantai Seger, Lombok.

 

Biasanya, masyarakat Lombok tumpah ruah di Pantai Seger dan menangkap cacing-cacing laut. Malam sebelum berlangsungnya Bau Nyale, masyarakat setempat melakukan ritual di rumah masing-masing dengan memotong ayam dan memasak ketupat. Ya, Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun.

 

Cacing-cacing laut ini dikenal dengan sebutan nyale, yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Mandalika dikenal sebagai putri cantik yang memilih menceburkan diri ke laut lepas, menghindari peperangan antar pangeran yang memperebutkan dirinya.

Pertanda kebaikan

Secara harafiah, kata bau berasal dari Bahasa Sasak yang berarti menangkap sedangkan kata nyale berarti cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang.

 

Nyale yang berwarna-warni ini juga dikenal mengandung protein tinggi sehingga dapat dikosumsi, dan rasanya pun enak. Apalagi hanya bisa dinikmati setahun sekali, tidak heran nyale menjadi sangat spesial. Nyale juga dipercaya menyuburkan tanaman terutama padi.

 

Memperebutkan dan mencari nyale jadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Lombok yang percaya akan legenda Putri Mandalika, tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka yang pertama kali melihat nyale merasa terkesan dan tertarik mengabadikannya, bahkan penasaran ingin mencicipi rasanya.

 

Tradisi ini tetap tumbuh dan hadir di tengah perkembangan zaman. Bau Nyale adalah bagian dari tradisi masyarakat agraris masyarakat Pulau Lombok. Banyak tidaknya nyale yang muncul setiap tahun, diyakini sebagai pertanda akan banyak tidaknya hasil panen para petani.

 

Jika nyale gemuk, sehat, dan berwarna-warni, pertanda akan mendapatkan kebaikan dan panen yang melimpah. Sedangkan jika nyale kurus dan pucat, justru malapetaka yang akan datang.

Kisah Putri Mandalika

Siapa sangka, nyale yang diperebutkan dan dicari-cari setiap tahun oleh masyarakat Lombok ini adalah jelmaan dari seorang putri cantik yang zaman dahulu diperebutkan oleh pangeran-pangeran dari berbagai kerajaan.

 

Dikisahkan wikipedia.com, Putri Mandalika adalah seorang putri cantik jelita yang menjelma menjadi cacing nyale dan muncul sekali dalam setahun di Pantai Lombok.

 

Putri Mandalika adalah putri dari pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Raja ini terkenal karena kebijaksanaannya sehingga rakyatnya sangat mencintainya karena mereka hidup makmur. Putri Mandalika hidup dalam suasana kerajaan dan dihormati hingga dia menginjak dewasa.

 

Saat dewasa Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan mempesona. Kecantikannya tersebar hingga ke seluruh Lombok sehingga pangeran-pangeran dari berbagai Kerajaan seperti Kerajaan Johor, Kerajaan Lipur, Kerajaan Pane, Kerajaan Kuripan, Kerajaan Daha, dan Kerajaan Beru berniat untuk mempersuntingnya.

 

Mengetahui hal tersebut ternyata membuat sang putri menjadi gusar, karena jika dia memilih satu di antara mereka maka akan terjadi perpecahan dan pertempuran di Gumi Sasak. Bahkan ada beberapa pangeran kerajaan yang menggunakan senggeger (pelet) agar Sang Putri jatuh hati padanya. Namun hal ini malah membuat sang putri makin gusar.

Setelah berpikir panjang, akhirnya sang putri memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran beserta rakyat mereka untuk bertemu di Pantai Kuta, Lombok pada tanggal 20 bulan ke 10 menurut penanggalan Sasak tepatnya sebelum subuh. Undangan tersebut disambut oleh seluruh pangeran beserta rakyatnya sehingga tepat pada tanggal tersebut mereka berduyun-duyun menuju lokasi undangan.

 

Setelah beberapa saat akhirnya Putri Mandalika muncul dengan diusung oleh prajurit-prajurit yang menjaganya. Kemudian dia berhenti dan berdiri di sebuah batu dipinggir pantai. Setelah mengatakan niatnya untuk menerima seluruh pangeran dan rakyat, akhirnya sang putri pun meloncat ke laut. Seluruh rakyat yang mencari tidak menemukannya.

 

Setelah beberapa saat akhirnya datanglah sekumpulan cacing berwarna-warni yang menurut masyarakat dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Bagi Anda yang ingin merasakan sensasi menangkap nyale datanglah ke Lombok!

Arris Riehady

SHARE