Catat Tempat Belanja Batik dan Barang Antik Ini di Solo

12 April 2019

Tidak lengkap rasanya bila liburan ke Solo tapi tidak belanja seperti beli oleh-oleh dan batik khas kota tersebut. Nah, kalau kamu ingin belanja batik di Solo, ini dia tempat-tempatnya!

Kota Solo dikenal sebagai kota yang tetap menjaga warisan budayanya, termasuk batik. Sebelum kamu belanja batik di kota ini, ada yang perlu diketahui supaya tidak salah beli.

 

Batik Yogyakarta dan Solo berasal dari sumber yang sama, yaitu Keraton Mataram, namun kemudian keduanya mengalami perkembangan yang berbeda. Model batik Yogyakarta berlatar putih (disebut Bledak) dengan mempertahankan motif gaya Keraton yang baku, seperti parang, kawung, dan sebagainya, sedangkan batik khas Solo (disebut Sogan) cenderung berlatar hitam atau gelap dengan dominasi warna kecokelatan.

 

Yuk mulai belanja batik di Solo, ini dia tempat-tempatnya!

Kampung Batik Kauman

Berlokasi di dekat kompleks keraton, mayoritas penghuni kampung ini adalah para abdi dalem. Para pengrajin batik di Kampung Batik Kauman mewarisi ilmu membatik dari Ndalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dengan keahlian tersebut, masyarakat Kampung Batik Kauman menghasilkan motif-motif batik yang dikenakan keluarga keraton.

 

Kampung Batik Kauman sendiri dikelilingi bangunan kuno yang bentuknya masih dipertahankan, sehingga berjalan-jalan di sini, siapa pun dengan mudahnya melupakan waktu. Jangan lewatkan juga mengunjungi Batik Gunawan Setiawan bila tertarik belajar membatik.

 

Kampung Batik Kauman memiliki tiga jenis batik yaitu batik klasik dengan motif pakem (batik tulis) yang menjadi produk unggulannya, batik cap, dan batik kombinasi cap dan tulis. Kalau mau keliling Kampung Batik Kauman dan belanja batik di Solo, sebaiknya kamu jalan kaki atau naik becak karena aksesnya berupa gang sempit.

Pasar Klewer

Pusat grosir batik terbesar di Solo ini namanya didapat dari pedagang batik yang dulu menjajakan batik dengan keranjang yang dipanggul sehingga dagangan batiknya menjuntai (kleweran dalam bahasa Jawa). Sudah ada sejak zaman Belanda, di pasar ini bisa ditemui batik cap seharga belasan ribu hingga batik tulis seharga jutaan rupiah.

 

Ya, yang menonjol di Pasar Klewer adalah adanya berbagai macam jenis batik. Di antaranya batik tulis Solo, batik cap, batik antik keraton, batik pantai keraton Solo, dan batik putri Solo. Selain itu, ada berbagai jenis batik dari Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi dan kota-kota lainnya

 

Jika sudah puas belanja batik di Solo, kamu juga mesti coba kuliner yang ada di Pasar Klewer seperti Bakso Klewer Prawiroredjo, Tengkleng Bu Edi, es dawet selasih, dan Selat Solo Bu Sasmito.

Pasar Gede

Berseberangan dengan Balai Kota, Pasar Gede yang dibangun oleh arsitek Belanda, Ir. Thomas Karsten, pada 1930 ini memadukan arsitektur Belanda dan Jawa. Dilindungi sebagai bangunan bersejarah, langit-langitnya yang tinggi membuat sirkulasi udara lancar dan suhu di dalam ruangan tetap sejuk walau tanpa pendingin.

 

Sempat hancur ketika Agresi Militer Belanda di tahun 1947 dan kemudian direnovasi pada 1949, pasar ini adalah tempat warga setempat berbelanja. Di sini kamu bisa berburu oleh-oleh, termasuk belanja batik.

 

Selain belanja batik di Solo, di pasar ini kamu juga bisa berburu kuliner legendaris Solo, seperti es dawet telasih,  lenjongan, cabuk rambak, tahok, es gempol pleret, dan brambang asem. Harganya juga tidak mahal, jadi tidak akan mengurangi jatah belanja kamu!

Kampung Batik Laweyan

Selain Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan juga terkenal sebagai kampung yang dihuni para juragan batik. Sejak abad 19, Laweyan dikenal sebagai kampung batik dan mencapai kejayaannya pada tahun 1970-an.

 

Di sinilah tempat berdirinya Syarikat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh para produsen dan pedagang batik pada 1912.

 

Mirip dengan Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan juga memiliki bangunan tua dan gang-gang sempit dengan kios-kios yang memajang karya batik warga setempat. Jadi selain bisa belanja batik di Solo, kamu juga bisa foto-foto untuk galeri di Instagram.

Pasar Triwindu

Berdiri sejak 1939 dan sempat berganti nama menjadi Pasar Windujenar, dulunya Pasar Triwindu ini merupakan pasar yang digelar setiap tiga windu sekali (1 windu = 8 tahun), dan di sinilah tempat untuk berburu barang antik, mulai dari koleksi batik, uang dan koin kuno, peralatan makan, kain batik, topeng, gramofon tua dari Eropa, wayang, sepeda kuno, hingga berbagai benda yang diklaim sebagai fosil makhluk purba dari Sangiran.

 

Pada Juli 2008 lalu, pasar ini dipugar mengikuti arsitektur di sekitar Solo. Lahan berjualan yang tadinya hanya satu lantai sekarang dibangun bertingkat dua oleh pemerintah Solo, sehingga para pedagang yang tadinya berhimpit-himpitan mendapatkan tempat yang lebih luas dan nyaman untuk berjualan.

 

Pasar ini mulai buka jam 09:00 sampai pukul 16:00. Biasanya, pasar akan lebih ramai pada masa-masa liburan. Buat kamu pecinta barang antik, wajib datang ke sini!

Pasar Malam Ngarsopuro

Bahasa kerennya night market, pasar yang buka hanya empat jam saja ini digelar setiap Sabtu dan Minggu malam. Ya benar, hanya empat jam, mulai pukul 18:00 hingga 22:00 waktu setempat. Pasar ini dibuka oleh Joko Widodo pada 2009 yang kala itu masih menjabat sebagai walikota. Lokasinya di Jalan Diponegoro dekat dengan Mangkunegaran dan masih satu poros dengan Jalan Slamet Riyadi. Berbagai suvenir unik, kerajinan tangan, dan barang antik dapat dibeli di sini untuk oleh-oleh.

 

Yuk mari liburan ke Solo dan belanja batik di Solo!

Nah, daripada bingung dan tersasar mending kamu sewa mobil saja di Movic. Movic merupakan aplikasi yang menghubungkan pemilik dan penyewa mobil. Tentunya jika berlibur dan menyewa mobil sekaligus dengan sopirnya, kamu akan lebih hemat tenaga.

 

Selain bertugas mengantar kamu berlibur, sopir juga dapat memberikan informasi tempat wisata yang sesuai dengan kebutuhan atau yang sedang ‘hitz’ di kalangan pelancong. Dengan menyewa mobil berikut sopirnya bisa jadi kamu dapat menekan budget saat liburan.

 

Tunggu apalagi, segera download Movic. Mo’ Untung, Movic Aja!

 

   

Arris Riehady

SHARE