Sejarah Ban dan Perkembangannya dari Dulu hingga Kini

Bagaimana sejarah ban dapat berkembang dari roda berlapis karet menjadi ban tanpa angin di masa kini? Selengkapnya di artikel berikut ini.

Sejak dulu, ban merupakan elemen penting yang memiliki peran untuk membantu kendaraan bergerak. Menarik untuk diketahui, bagaimana sejarah ban dari awal tercipta sampai sekarang.

Sebagai informasi, mobil bensin pertama dilengkapi ban logam berlapis karet yang diisi udara.

Sejak saat itu, para peneliti mengembangkan bahan dan material ban, sampai menjadi ban yang sekarang umum digunakan.

Baca juga: Kenapa Ban Berwarna Hitam? Ada Alasan Lain Dibaliknya

Nah, seperti apa sejarah ban dan perkembangannya dari dulu hingga kini? Simak penjelasannya berikut ini.

Awal mula terciptanya ban

Sekarang, kendaraan tidak hanya berkembang dari segi mesin dan fiturnya. Ban juga mengalami perkembangan, yang mana sudah mulai dirancang tanpa udara.

Mulanya, roda pertama kali diciptakan sekitar tahun 3500 sebelum Masehi. Roda terbuat dari kayu yang kemudian dilapisi kulit agar kendaraan melaju lebih mulus.

Seiring waktu, kulit digantikan dengan karet tanpa udara dan digunakan pada kendaraan berlaju lambat.

Lalu, sekitar tahun 1844, Charles Goodyear menjadi orang pertama yang mengembangkan proses vulkanisir pada karet agar dapat diolah jadi lebih kuat.

Baca juga: Efek Bila Mobil Menggunakan Ban Balap untuk Rutinitas

Ban pneumatik atau ban karet yang terisi dengan udara pertama kali diciptakan oleh Robert William Thomson pada 1847. Namun, yang pertama kali mengaplikasikan ban pneumatik adalah John Boyd Dunlop pada 1888.

Dunlop menggunakan ban tersebut pada sepeda tricycle anaknya untuk mencegah sakit kepala saat mengendarainya di jalanan kasar. 

Pada tahun yang sama, ban pneumatik berlapis logam pertama kali disematkan di mobil bensin yang diciptakan Benz, yang juga menjadi mobil bermesin bensin pertama di dunia.

Baca juga: Ban Tubeless Sering Kempis Saat Digunakan, Apa Masalahnya?

Kemudian, penggunaan ban pneumatik pada mobil dipopulerkan oleh Michelin bersaudara pada 1895 dalam ajang balap automobile dari Paris ke Bordeaux.

Lalu di 1905, tapak ban didesain untuk melindungi struktur ban agar tidak bersentuhan langsung dengan permukaan jalan serta meningkatkan koefisien gesekan ban mulai diperkenalkan.

Perkembangan material ban

Tahun 1920-an menandai perkembangan material ban. Diawali dengan diciptakannya karet sintetis di laboratorium Bayer pada tahun tersebut karena keterbatasan karet di Britania Raya pada saat Perang Dunia II.

Karet sintetis kemudian diproduksi secara besar oleh The DuPont Company pada 1931, dan hal ini meningkatkan produksi ban yang dulunya bergantung dengan karet alam. 

Baca juga: Apa Alasan Lubang Baut Pelek Mobil Jumlahnya Berbeda?

Tiga tahun berselang, tepatnya di 1923, dikembangkanlah balloon tire atau ban bertekanan rendah yang digunakan pada sejumlah mobil dengan tujuan meningkatkan area kontak ke permukaan jalan dengan tekanan udara rendah.

Ban tubeless pertama kali dikembangkan pada 1947 sebagai upaya untuk mengurangi tingginya harga minyak.

Penggunaan ban tubeless dapat mengurangi beban kendaraan sehingga dianggap dapat menghemat bahan bakar.

Baca juga: Cara Mudah Merawat Pelek Mobil agar Tetap Kinclong

Tidak lama setelah itu, ban radial muncul pada tahun 1950-an. Ban radial adalah jenis ban di mana tali dan karkas (casing) disusun secara vertikal ke arah mobil mengemudi.

Ternyata, ban radial dapat membantu menghemat bahan bakar sebab kontak ban terhadap permukaan jalan lebih teratur sehingga kendaraan lebih stabil, bahkan dalam kecepatan tinggi.

Pada 1979 muncul ban run-flat, teknologi ini memungkinkan kendaraan mampu menempuh kecepatan maksimum 80 km/jam meskipun ban dalam keadaan kempis.

Dikembangkannya ban tanpa angin

Semakin berkembangnya teknologi, otomatis membuat produsen semakin meningkatkan terobosan baru bagi industri otomotif. Salah satunya dengan mengembangkan ban tanpa angin.

Ban tanpa angin memiliki bentuk yang sama seperti ban konvensional dan berbahan karet. Bedanya, ban tanpa angin punya dinding yang berongga karena tidak perlu menampung udara.

Kelebihan ban tanpa angin adalah tidak akan bocor sehingga meminimalisir kerusakan ban. Selain itu, ban tanpa angin juga diklaim tahan paku dan kebal peluru.

Baca juga: Palang Pelek Mobil Berpengaruh ke Performa, Benarkah Begitu?

Meski lebih fleksibel di berbagai medan jalan dan tidak butuh perawatan ekstra, harga ban tanpa angin tidak murah.

Misalnya adalah ban tanpa angin milik Michelin, yang harga jualnya ditaksir mencapai Rp639 ribu hingga Rp923 ribu per ban.

Sejarah ban dari roda berlapis karet hingga teknologi terkini membuatnya semakin kuat untuk menunjang kebutuhan para pengguna kendaraan.

Kemudian, tingkat kenyamanan serta keamanan pengemudi semakin tinggi seiring dengan evolusi yang terjadi.