Kronologi Demo di Hong Kong dan Travel Warning Pemerintah

Demo besar-besar kembali terjadi di Hong Kong. Demo ini lebih besar dan memicu banyak kerugian. Apa pemicu unjuk rasa ini terjadi?

 

Demo besar-besaran yang berlangsung di Hong Kong (HK) merupakan satu di antara polemik politik yang belum tuntas. Klaim jutaan orang berunjuk rasa di wilayah sentral perekonomian kota menuntut keadilan pemerintah.

 

Pasalnya, demo yang terjadi di beberapa pekan ini bukanlah demo pertama. Aksi yang diketahui sudah berlangsung sejak Maret lalu menghadirkan rangkaian ujuk rasa yang terjadwal dan terkadang menimbulkan aksi anarkis para demonstran.

 

Aksi ini lahir dari protes warga Hong Kong terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Ekstradisi antara HK dan China mengenai hak China dalam mendakwa para pelaku kriminal di Hong Kong. Namun, dari demo Hong Kong yang berlangsung kemarin (13/8/2019) berhasil menambah draf tuntutan dan dinilai merugikan banyak pihak.

 

Baca juga: Siap-siap, Mobil Listrik Segera Hadir di Indonesia

 

“Menurut informasi yang saya terima, diketahui ada sekitar 5.000 pengunjuk rasa yang  berdemo di depan gedung Bandara Internasional Hong Kong,” ungkap Kong Wing-cheung, inspektur senior polisi urusan hubungan masyarakat, dalam konferensi pers yang dilansir dari Kompas.com

 

Memahami posisi Hong Kong

Jika dilihat dari posisinya, Hong Kong memang tak bisa lepas dari bayang-bayang China. Menurut sejarah, Hong Kong merupakan bagian dari China yang pada tahun 1842 harus diserahkan kepada koloni Inggris lantaran sebuah perjanjian.

 

Lalu, Hong Kong pun berada di bawah Inggris selama 99 tahun lamanya. Saat berada dalam genggaman Inggris, Hong Kong menjadi wilayah yang maju, khususnya di sektor pelabuhan-perdagangan yang menjadi pusat manufaktur.

 

Kemudian, pada 1997 Hong Kong kembali ke tangan China di bawah prinsip “satu negara, dua sistem” yang artinya Hong Kong dapat berdiri sebagai negara yang menikmati otonominya, tetapi tetap dalam satu negara dengan China (One China Policy).

 

Aktivitas perekonomian lumpuh

Akibat aksi demo yang terjadi di Bandara Internasional itu, setidaknya sekitar 105 penerbangan dibatalkan. Para penumpang yang terpaksa menghentikan perjalanannya terlihat turut memenuhi bandara.

 

Selain itu, atas otoritas kepala bandara, para pengunjuk rasa diizinkan berkumpul di di aula kedatangan demi mengamankan dan menghindari hal buruk terjadi di sekitar bandara. Dengan begitu, aktivitas bandara yang dikenal paling sibuk di dunia berhenti sementara.

Travel warning

Sejumlah negera mengeluarkan imbauan berupa “travel warning” untuk warga yang akan melakukan perjalanan ke Hong Kong.

 

Misal di Indonesia, beberapa agen perjalanan mengaku para konsumennya ada yang mengundurkan diri dari perjalanan menuju Hong Kong dan mengganti jadwal perjalanan.

 

Baca juga: Biar Gak Mati Gaya, Coba Bawa 6 Barang Ini Saat Traveling

 

Selain itu, Kemenlu juga mengeluarkan imbauan khusus kepada warga Indonesia yang ingin berpergian ke sana. Setiap warga yang hendak ke Hong Kong diimbau untuk mencari tahu info lebih lanjut tentang situasi di Hong Kong dan mencermati keadaannya.

 

Kemenlu juga menyarankan agar WNI memantau perkembangan wilayah itu melalui aplikasi Safe Travel Kemenlu, termaksud juga WNI yang ada di wilayah konflik.

 

Karenanya, demi menjaga keamanan dunia, pemerintah RI juga meminta warga untuk tetap tenang dan terus berhati-hati bila hendak liburan ke sana.