Kenalan dengan 9 Tempat di Dieng yang Wajib Dikunjungi

Dengan pesonanya, Dieng menjelma jadi primadona tempat wisata di Wonosobo, Jawa Tengah. Sebelum ke sana, yuk kenalan dulu sama tempat-tempat di Dieng yang mesti kamu kunjungi.

Terhampar pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, Dieng adalah dataran tertinggi kedua di dunia yang dihuni manusia setelah Nepal. Mudah diakses dari berbagai kota besar di Pulau Jawa, inilah alternatif destinasi baru berakhir pekan.

 

Ini dia, tempat-tempat di Dieng yang mesti kamu kunjungi!

Kompleks Candi Arjuna

Selain candi utama, yaitu Candi Arjuna, terdapat empat candi lain di kompleks ini, yaitu Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

 

Candi Arjuna, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra dibangun untuk menyembah Dewa Siwa, sementara Candi Srikandi dibangun untuk menyembah trimurti Siwa, Brahma, dan Wisnu. Selain kelima candi tersebut, sekitar 200 meter di barat kompleks Candi Arjuna terdapat Candi Setyaki yang diperkirakan dibangun pada periode yang sama dengan Candi Arjuna.

 

Di kompleks candi ini tidak ditemukan arca karena sebagian besar isinya disimpan di Museum Kailasa. Kompleks Candi Arjuna sendiri adalah lokasi perayaan Galungan dan pelaksanaan ruwatan sejumlah anak gimbal setiap tahunnya. (Tiket Rp 10.000, sudah termasuk ke Sendang Sedayu, Sendang Maerokoco, Dharmasala, dan Kawah Sikidang)

Telaga Warna

Terletak di Desa Dieng Wetan, perubahan warna air telaga ini – yang bahkan di saat-saat tertentu dapat terlihat terdiri lima warna – membuat pengunjung berbondong-bondong ke sini.

 

Perubahan merah, hijau, biru, abu-abu, dan kuning ini umumnya terjadi pada Juli hingga Agustus di musim kemarau karena keberadaan plankton, kandungan belerang, sinar matahari, dan vegetasi di sekitar danau. Di sekitar Telaga Warna terdapat sebuah kawah kecil bernama Kawah Sikendang.

 

Kawah ini merupakan air panas yang tidak bisa keluar karena tertahan oleh tanah. Tekanan air panas tersebut kemudian menghasilkan bunyi seperti orang yang memainkan gendang, sehingga kawah ini kemudian dinamakan Sikendang.

 

Telaga Warna buka setiap hari pukul 06:00 hingga 18:00 WIB. Tiket masuk ke kawasan ini seharga Rp 6.000, yang dapat sekaligus digunakan untuk mengunjungi Telaga Pengilon.

Bukit Batu Ratapan Angin

Salah satu spot terbaik untuk menikmati Telaga Warna adalah dari atas Bukit Batu Ratapan Angin. Tempat di Dieng ini juga titik terbaik untuk ber-selfie.

 

Terdiri dua batu besar yang berdampingan di atas bukit tak jauh dari Dieng Plateu Theatre, dari tempat ini juga dapat terlihat Telaga Warna Pengilon. Namanya terdengar dramatis karena diambil dari kencangnya hembusan angin di sini yang terdengar seperti orang sedang meratap.

 

Untuk ke sini, dari area parkir harus berjalan menanjak melewati jalan setapak yang terjal dan membayar tiket sebesar Rp 3.000 per orang.

Kawah Sikidang

Kawah utamanya dapat berpindah-pindah, sehingga kemudian dinamai Sikidang, yang berasal dari kata “kidang” atau kijang dalam bahasa Jawa karena kijang gemar berpindah tempat dengan lincah.

 

Untuk menuju tempat ini, dari pintu masuk harus trekking sekitar satu kilometer. Ketika memasuki kawasan kawah, akan terlihat beberapa lubang besar yang mengeluarkan asap mengepul. Dulu kawah-kawah ini merupakan lubang raksasa dan diperkirakan suatu hari akan kembali menyatu.

 

Disarankan untuk mengenakan masker karena asap belerang yang menyengat seringkali menganggu dan usahakan jangan terlalu dekat dengan kawah karena suhunya dapat mencapai 90 derajat celsius. (Buka tiap hari pukul 07:00 hingga 16:00 WIB, tiketnya merupakan terusan dari Kompleks Candi Arjuna seharga Rp 10.000 per orang)

Telaga Pengilon

Terletak di selatan Telaga Warna, sesuai namanya, telaga ini berair jernih sehingga permukaannya bagai cermin. Dalam bahasa Jawa, “pengilon” berarti cermin dan konon orang yang berniat jahat, bila bercermin di telaga ini, bayangan wajahnya akan tampak buruk dan sebaliknya, jika seseorang berniat baik, maka bayangannya di permukaan pun akan tampak cantik atau tampan.

 

Selain itu, jika air di telaga berubah keruh, masyarakat percaya akan ada wabah menyerang. Bila dilihat dari jauh, air Telaga Pengilon terlihat cokelat, yang disebabkan lumpur yang mengendap di dasarnya.

 

Tak seperti Telaga Warna, air telaga ini tak mengandung belerang, sehingga airnya aman untuk dimanfaatkan masyarakat setempat untuk keperluan sehari-hari. Untuk menuju telaga ini, kendaraan harus melewati jalan berliku yang diapit jurang.

Telaga Cebong

Terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Jawa, di selatan desa ini juga terdapat Bukit Sikunir, primadona pariwisata Dieng dengan Telaga Cebong di lerengnya.

 

Dinamakan demikian, karena dilihat dari ketinggian, telaga ini terlihat seperti kecebong, dan menurut cerita rakyat setempat, dulu banyak katak hidup di telaga tersebut. Air Telaga Cebong di pagi hari sering tampak berkilauan seperti cairan minyak, terutama bila disaksikan dari jalur pendakian ke Bukit Sikunir.

 

Dikelilingi perkebunan sayur dan buah, air telaga ini dimanfaatkan sebagai irigasi. Selain berkemah, memancing juga dapat dilakukan di telaga yang uang masuknya Rp 5.000 per orang ini.

Bukit Sikunir

Berada di Desa Sembungan dengan Telaga Cebong sebagai pintu masuknya, bukit ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin melihat keindahan matahari terbit yang dikelilingi Gunung Sikunir, Sindoro, Merapi, Merbabu, Telomoto, dan Ungaran, terutama setiap Juli hingga Agustus ketika matahari akan muncul dari balik Gunung Sindoro.

 

Hanya saja, karena merupakan musim kemarau, pengunjung yang datang pada bulan-bulan tersebut harus siap menghadapi suhu yang sangat dingin. Dari Telaga Warna, perjalanan menuju puncak Bukit Sikunir masih sekitar satu kilometer.

 

Walau sepanjang perjalanan terdapat papan penanda arah, tangga yang disusun dari batu kali ini cenderung licin, sehingga disarankan untuk mengenakan sandal atau sepatu gunung. Ada dua jalur menuju puncak, yaitu jalur terjal dengan jarak tempuh yang lebih pendek dan jalur landai dengan jarak tempuh lebih jauh.

 

Puncak Bukit Sikunir berada di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Dari puncak bukit juga akan terlihat bentuk Telaga Cebong yang memang mirip kecebong.

Telaga Merdada

Telaga seluas 25 hektar di Desa Karang Tengah ini merupakan telaga terluas di Dieng.

 

Telaga ini tidak memiliki sumber mata air, berhubung airnya berasal dari tampungan air hujan selama ribuan tahun. Itulah sebabnya di musim kemarau telaga ini kering, sehingga pengunjung dapat berjalan dengan aman di atas tanahnya yang mengeras.

 

Dikelilingi Bukit Pangonan dan Bukit Semurup (atau menyala dalam bahasa Jawa, karena tanah bukit ini berwarna merah dan sering terjadi kebakaran sehingga tampak menyala), telaga ini merupakan sumber air penting bagi ladang-ladang di sekitarnya, yang mayoritas ditanami kentang.

 

Warga Dieng sangat bangga dengan hasil panen kentang mereka dan mengklaimnya sebagai kentang terbaik di Indonesia. (Buka tiap hari pukul 07:00 hingga 16:00 WIB, tiket Rp 5.000 per orang)

Sumur Jalatunda

Sumur di Desa Pekasiran ini berdiameter 90 meter dengan kedalaman lebih dari 100 meter. Terbentuk dari letusan gunung berapi jutaan tahun lalu, bekas letusan ini kemudian membentuk lubang kawah mirip sumur yang terisi dengan air hingga saat ini.

 

Tempat di Dieng ini menyimpan sebuah mitos yang dipercaya masyarakat sekitar. Jika ada yang mampu melempar batu hingga ke seberang sumur, dipercaya permintaan orang tersebut akan terkabul. Mitos itulah yang menginspirasi pemberian nama sumur ini, berhubung “jala” berarti jaring dan “tunda” berarti belum terlaksana.

 

Jika diartikan, Sumur Jalatunda berarti sumur yang dapat menampung semua permintaan yang masih tertunda. Tiket masuknya Rp 5.000 per orang, dan untuk menuju Sumur Jalatunda, pengunjung harus mendaki anak tangga sejumlah 257 buah.

Cara ke Dieng

Jangan lupa dicatat ya tempat-tempat di Dieng yang mesti kamu kunjungi di atas.

 

Kalau mau sewa mobil, kamu bisa berangkat dari Semarang atau Yogyakarta. Lama perjalanannya sekitar tiga jam. Nah jika bingung, mending kamu sewa mobil saja di Movic. Movic merupakan aplikasi yang menghubungkan pemilik dan penyewa mobil. Tentunya jika berlibur dan menyewa mobil sekaligus dengan sopirnya, kamu akan lebih hemat tenaga.

 

Selain bertugas mengantar kamu berlibur, sopir juga dapat memberikan informasi tempat wisata yang sesuai dengan kebutuhan atau yang sedang ‘hitz’ di kalangan pelancong. Dengan menyewa mobil berikut sopirnya bisa jadi kamu dapat menekan budget saat liburan.

 

Tunggu apalagi, segera download Movic. Mo’ Untung, Movic Aja!